Musim Hujan Diprediksi Mundur, Bahan Pangan Terpantau Stabil

Musim Hujan Diprediksi Mundur, Bahan Pangan Terpantau StabilPemantauan harga sejumlah bahan pokok dan sejumlah komoditas lain di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. - Harian Jogja/Desi Suryanto
29 Agustus 2019 09:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY memantau kondisi harga bahan pangan saat ini stabil meskipun musim hujan diprediksi mundur.

 

Kabid Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag DIY Yanto Apriyanto mengungkapkan untuk harga bahan pokok sampai saat ini relatif stabil dan terkendali. "Hanya saja komoditas cabai harganya tinggi merata se-Indonesia," kata dia, Senin (27/8).

Ia mengungkapkan Disperindag terus memantau pasokan dan fluktuasi haega bahan pangan. Pihaknya juga telah mengambil langkah antisipasi berupa operasi pasar. "Kita juga telah mengantisipasi dengan operasi pasar murni berupa komoditas beras di kantong-kantong kekeringan," kata dia.

Ia mengungkapkan berdasarkan pantauan di pasar harga bahan pangan cukup terkendali meskipun cabai masih tinggi, Rabu (28/8). Harga rata-rata cabai merah keriting Rp52.000 per kilogram (kg), cabai merah besar Rp45.333 per kg, cabai rawit hijau Rp32.000 per kg, cabai rawit merah Rp55.333 per kg, bawang merah Rp15.667 per kg, bawang putih kating Rp29.333 per kg, dan bawang putih sinco Rp27.000 per kg.

Dilansir dari laman resmi BKMG, disebutkan kondisi iklim di wilayah kepulauan Indonesia sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu muka air laut, baik muka air laut yang ada di kepulauan Indonesia maupun muka suhu yang berada di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.

Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati menyampaikan pada Oktober 2018 BMKG telah memprediksi terjadinya El Nino lemah. Saat ini pada Agustus 2019, BMKG memantau dan menganalisis El Nino lemah telah berakhir, sehingga anomali di Samudra Pasifik kembali menjadi netral. Kondisi netral ini diperkirakan berlangsung hingga akhir 2019.

Namun, masih berpengaruh suhu muka air laut di wilayah Samudra Hindia sebelah barat Sumatera dan perairan Indonesia di bagian selatan ekuator lebih dingin dari suhu normal (260°-270°C). "Akibatnya proses penguapan air laut lebih sulit terjadi, pembentukan awan-awan hujan juga menjadi berkurang. Akibatnya curah hujan rendah," papar dia.

Dwikorita Karnawati mengungkapkan kondisi suhu ini diperkirakan akan berlangsung sampai Oktober 2019. Implikasinya, awal musim hujan akan mundur 10 hingga 30 hari dari normalnya dan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, yaitu Sumatra Utara, sebagian besar Riau, Jambi bagian tengah, sebagian besar Sumatra Selatan, sebagian kecil Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian kecil Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.