Resurgence Bangkitkan Memori Arif Hanungtyas

Resurgence Bangkitkan Memori Arif HanungtyasManajemen Artotel Yogyakarta berfoto bersama dengan trofi Exclusive Award, category: Comfort & Clean Hotel belum lama ini./ Ist. - Artotel Yogyakarta
05 Oktober 2019 11:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Setelah beberapa pekan menampilkan karya-karya Theresia Sitompul, Artotel Yogyakarta kembali menghadirkan pameran tunggal bersama Arief Hanungtyas. Kali ini, pameran seni mengangkat tema yakni Resurgence.

Pameran akan dibuka pada Kamis (10/10), di Artspace Artotel Yogyakarta. Artotel Yogyakarta selalu memberikan ruang kebebasan bagi para seniman untuk menampilkan progres berkaryanya dari waktu ke waktu. Pameran ini akan berlangsung dari Jumat (4/10)–Minggu (24/11).

Seniman bernama Arif Hanungtyas S. merupakan lulusan dari Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan Pendidikan Seni Rupa, mengawali karier senimannya pada pameran karya pada 2013 dengan karya yang berjudul Imaji Hiu dalam Lukisan.

Enam tahun ia berproses menghasilkan karya yang beragam, hingga pameran terbaru pada 2019 ini yakni Tag Team di Kiniko Art Space. Sehingga melalui pameran tunggal di Artotel Yogyakarta Inilah menjadi momen untuk Hanung merekam sekaligus menjadi sebuah karya retrospektif selama ia berkarya. Karena Hanung akan menampilkan perjalanan karyanya dari sejak 2013 hingga 2019, melalui pameran tunggalnya kali ini yang berjudul Resurgence.

Beberapa karya yang akan ditampilkan di Artspace Artotel Yogyakarta, memiliki latar belakang dari ingatan yang dimilikinya dari masa kecil hingga beberapa momen yang terjadi pada masa kini. Hanung ingin menggambarkan ingatan dan merasakan kembali ingatan tersebut dalam bentuk tekstur ataupun goresan dari kuasnya bahkan menambahkan sentuhan jarinya kedalam karyanya dan ingin melihat seberapa besar distorsi yang terjadi dalam mengingat kenangan atau momen tersebut.

Art Manager Artotel Group, Windi Salomo menyampaikan karya-karya yang disampaikan oleh Hanung berasal dari ingatan akan hal-hal yang dilihat dan dirasakan atas bentuk dan momen yang ditemukan. “Ia ingin menampilkan seberapa jauh ia mengingat dan merasakannya kembali, seberapa besar distorsi yang terjadi dalam kurun waktu tersebut,” kata Windi melalui siaran pers, Jumat (4/10).