Berkat Mahasiswa, Penjualan Kipas Angin Naik 30%

Berkat Mahasiswa, Penjualan Kipas Angin Naik 30%Pengunjung melihat barang elektronik disalah satu toko elektronik di Makassar. - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone)
04 Desember 2019 04:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Cuaca panas dan gerah beberapa waktu terakhir di Jogja, membawa rezeki tersendiri bagi penjual kipas angin di Jogja.

Pemilik toko elektronik Eldorado di daerah Jalan Gejayan, Yosef mengatakan memasuki pancaroba ini memang ada peningkatan penjualan. “Cuaca panas ekstrem kan sebenarnya sudah lewat ya, ini masuk pancaroba. Jadi ya pengaruh jadi gerah. Penjualan kipas memang naik sekitar 30 persen. Kebanyakan mahasiswa yang beli,” kata Yosef, Selasa (3/12).

Meski begitu ia tidak mengatakan secara detail berapa jumlah penjualannya. Ia mengungkapkan untuk produk kipas angin, sedikit berbeda dengan produk elektronik lainnya. Peningkatan penjualan tidak hanya saat masuk tahun ajaran baru, tetapi juga saat cuaca gerah.

Salah satu pembeli yang juga seorang mahasiswa di salah satu Universitas di Jogja, Mila mengungkapkan sengaja membeli kipas karena memang merasakan suasana panas akhir-akhir ini. “Iya beli memang karena gerah sekali akhir-akhir ini. Sudah ada tetapi rusak. Jadi beli yang baru,” ucapnya.

Prakirawan BMKG Stasiun klimatologi Yogyakarta, Djoko budiyono mengungkapkan hasil pengamatan suhu udara dalam beberapa hari ini di wilayah DIY berkisar 25-33 C.  Suhu minimum di malam hari mencapai 25 C, dan suhu maksimum di siang 33 C. Kondisi ini mengakibatkan rasa gerah.

“Di masa-masa pancaroba atau masa peralihan musim seperti saat ini, kondisi ini normal terjadi. Hal ini di dukung oleh tingkat kelembaban udara yang cukup tinggi saat ini berkisar 62 persen-92 persen. Dengan tingkat kelembaban yang tinggi maka pertumbuhan awan akan mulai meningkat, dengan adanya pembentukan awan dapat pula menyebabkan rasa gerah,” katanya.

Dengan adanya awan maka radiasi balik atau panas dari bumi ke atmosfer dapat tertahan oleh awan dan tidak bisa lepas langsung ke atmosfer. “Akibatnya suhu udara dibumi menjadi panas dalam bentuk gerah dalam tanda kutip,” ucapnya.