Sulitnya Mengatur Uang di Tengah Banjir Diskon Aplikasi

Sulitnya Mengatur Uang di Tengah Banjir Diskon AplikasiIlustrasi uang. - JIBI/Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
16 Desember 2019 06:37 WIB Salsabila Annisa Azmi & Riri Rahayuningsih Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berkembangnya beragam metode pembayaran digital yang memudahkan sistem pembayaran serta maraknya dunia belanja online turut memengaruhi gaya pengeluaran remaja. Mereka seharusnya telah dibekali dengan literasi keuangan yang baik, sayangnya hal itu tak serta merta berdampak pada remaja. Berikut ini ulasan wartawan Harian Jogja Salsabila Annisa Azmi dan Riri Rahayuningsih.

Tak hanya digunakan oleh orang-orang dewasa, aplikasi pembayaran digital juga sangat akrab digunakan oleh siswa siswi SMA. Mereka kerap melakukan transaksi menggunakan aplikasi tersebut saat membeli minuman dan makanan ringan.

Dengan kemudahan top up saldo, cepatnya proses pembayaran yang tak memerlukan antre dan juga berbagai diskon serta promo tak jarang menjadi faktor pengeluaran siswa per bulannya meningkat. Jangankan menyisihkan uang, pengeluaran pun menjadi tak terkontrol.

Siswa kelas 12 IPS SMA Negeri 1 Jogja, Muhammad Iqbal Zulhansyah menceritakan hal itu kepada Harian Jogja. Zulhan, begitu dia akrab disapa, mengatakan bahwa sejak dia masuk SMA, orang tuanya memberi jatah uang jajan per bulannya. Zulhan selalu mengalokasikan uang jajan itu ke beberapa kebutuhannya termasuk jajan dan menabung. Dia berkomitmen menyisakan Rp50.000 per bulan untuk ditabung. Namun dia mengakui, alokasi itu tak selalu dia tepati.

"Aku enggak pernah budgeting per hari yang saklek kalau jajan harus sekian, transport sekian gitu enggak pernah. Ya pokoknya nanti menyisakan Rp50.000 buat nabung. Akan tetapi ya enggak selalu sebesar itu juga tabungannya bisa jadi lebih kecil," kata Zulhan.

Zulhan mengatakan gempuran promo dan diskon dari aplikasi pembayaran digital menjadi faktor dirinya susah menepati alokasi anggaran uang jajan per bulannya. Apalagi dia tak memiliki aturan saklek soal pembatasan uang jajannya. Sehingga menurutnya, sela masih memiliki sisa uang jajan untuk ditabung hal itu sah saja.

Zulhan mengatakan sebenarnya dia dan teman-teman sebayanya sudah mulai sadar akan pentingnya belajar mengelola keuangan. Sebab mereka termasuk Zulhan merasakan betapa tidak enaknya jika uang jajan sudah habis di pertengahan bulan, sementara mereka tidak enak hati minta uang lagi kepada orang tua.

Sayangnya, program literasi keuangan yang pernah ia ikuti, terutama yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tak mudah diterimanya.  Zulhan mengatakan ada gap generasi atau usia dari narasumber pembicara dengan dia dan teman-teman sebayanya. Sehingga bahasa yang digunakan dan contoh kasus yang dipaparkan saat membahas literasi keuangan menjadi kurang relevan bagi Zulhan dan kawan-kawannya. "Kayaknya akan lebih paham kalau yang menjelaskan anak muda, atau seusia kita yang kesulitan mengatur uangnya sama. Pokoknya yang mengerti anak SMA. Kalau langsung pakar atau guru begitu soalnya sudut pandang udah beda, masalah yang dihadapi beda, caranya beda," kata Zulhan.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Jogja, Miftakodin mengatakan ada beberapa tantangan yang dihadapi pihak sekolah untuk memberi literasi keuangan pada siswa. Pertama, fenomena aplikasi pembayaran yang mudah dan cepat mendorong tingkat konsumsi siswa meningkat. Apalagi tak semua siswa seperti Zulhan yang diberi uang jajan per bulan. Masih banyak anak SMA yang diberi uang jajan harian.

"Mereka kan masih sekolah, mayoritas diberi uang jajan oleh orang tuanya itu per hari. Kalau habis, bisa minta lagi. Jadi tidak ada batasan nominal. Padahal batasan itu harus diberi, biar mereka latihan mengelola keuangan mereka sejak dini," kata Miftakodin.

 

Terkait hal tersebut Miftakodin bersama para orang tua mendiskusikan berbagai langkah. Salah satunya untuk mengajak siswa dan siswi menghitung dan menentukan budget kebutuhan mereka selama satu bulan, kemudian diturunkan berapa kebutuhan mereka selama satu hari.

 

 

Program Menabung

Literasi keuangan paling sederhana juga diterapkan di SMAN 9. Para siswa digiring untuk menyisihkan uang saku mereka dengan ikut program menabung.  

Kepala Sekolah SMA Negeri 9 Yogyakarta, Jumadi ketika ditemui Harian Jogja di ruang kerjanya pada Rabu (4/12) mengatakan bahwa ketika anak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan, maka ia dapat menghindari perilaku konsumtif. Selain program menabung, literasi keuangan diberikan dalam bentuk sosialisasi yang dilakukan bersama OJK serta pemberian materi di kelas.

Sedangkan program menabung dimulai pada 2016 bekerja sama dengan salah satu bank dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Program menabung ini dijalankan bersama koperasi sebagai salah satu bentuk aplikasi program literasi keuangan. Cara menabungnya juga cukup sederhana. Pertama, siswa hanya perlu membuka rekening bank.

Selanjutnya, siswa yang ingin menabung hanya perlu membawa uang tunai untuk disetorkan ke koperasi. Kemudian, pengurus koperasi akan mentransfer uang tersebut ke rekening mereka. Program menabung ini tidak diwajibkan, tetapi cukup banyak siswa yang terlibat. 

Salah satu siswa yang turut program menabung ialah Dewi Febriani Nawangsari, siswa kelas XII. Ia sudah menabung sejak kelas X. “Literasi keuangan ialah tentang bagaimana manajemen keuangan dari uang saku, yang salah satunya dilakukan dengan pengelolaan keuangan untuk kebutuhan dan penyisihan uang untuk ditabung. Jadi ya sosialisasi dari OJK pas awal masuk sekolah hingga program menabung ini cukup efektif sih untuk memberi sedikit pemahaman soal keuangan. Tentang menabung juga bikin aku lebih bisa mengelola uang,” kata Nawang.

Menurut Indrawati, salah seorang guru Ekonomi, literasi keuangan yang diajarkan di kelas, antara lain berupa pengelolaan keuangan sekaligus pembuatan skala prioritas. Selain itu, guru di kelas juga terus berupaya mengingatkan para siswa untuk menabung. “Secara teori tidak sulit, secara praktik juga tidak karena sudah ada program menabung,” kata dia.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Untung Nugroho mengatakan sejauh ini OJK DIY sudah rutin melakukan literasi keuangan para remaja, para guru SMA dan siswa mereka.

Kegiatan Literasi Keuangan kepada sekolah dan perguruan tinggi di wilayah DIY dilakukan dalam bentuk Kunjungan Studi Edukatif ke OJK DIY maupun seminar atau sosialisasi di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Kegiatan Edukasi dan Literasi Keuangan kepada beberapa segmen juga dilakukan. Seperti mahasiswa, UMKM, ibu rumah tangga dan komunitas.

"Pada 2017, OJK DIY juga telah melaksanakan program literasi keuangan yang menyasar guru SMA dan MA di DIY secara langsung dalam bentuk Training Of Trainers [TOT]. Kegiatan ToT tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan ketrampilan para guru dalam memberikan dan mengajarkan materi literasi keuangan formal sesuai kurikulum 2013," kata Untung.

Untung mengatakan training dilakukan satu hari dalam bentuk seminar. Audiens yang berupa anak SMA sudah diantisipasi agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Terkait hal ini OJK memiliki cara tersendiri agar materi perencanaan keuangan yang detail dan rumit bisa mudah dimengerti oleh anak SMA.

"Agar literasi keuangan pada remaja berjalan efektif, kami menggunakan media pembelajaran yang sedang tren, yaitu dengan animasi, kompetisi vlog, kompetisi program-program terasi keuangan," kata Untung.

Untung mengatakan supaya para siswa dan guru SMA bisa belajar literasi keuangan dimana pun, saat ini pembelajaran mengenai pengenalan tugas dan fungsi OJK yang sudah masuk dalam kurikulum pendidikan bagi SMA kelas X. OJK juga telah memiliki bahan ajar berupa buku maupun softcopy yang dapat diakses di web OJK untuk SD, SMP, SMA serta mahasiswa.