KANA SHIBORI: Dari Workshop Gratis hingga Gandeng Difabel

KANA SHIBORI: Dari Workshop Gratis hingga Gandeng DifabelKiri ke kanan, Pengelola Kana Shibori di Temanggung, Lusi Susiwinanti dan Owner Kana Shibori, Tutty Ferianingsih, berfoto di Kantor Harian Jogja, Sabtu (21/12/2019)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
04 Januari 2020 10:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berawal dari mengikuti workshop gratis membuat kain shibori di kelurahan dan memulai mengunggah hasil belajar ke media sosial Facebook, owner Kana Shibori, Tutty Ferianingsih mengembangkan hasil belajar ini bersama seorang rekan, Lusi Susiwinanti di Temanggung, Jawa Tengah.

Perjalanannya meniti bisnis dimulai sekitar dua tahun lalu. Tepatnya kala Tutty mulai tertarik untuk belajar lebih dalam mengenai teknik pewarnaan kain yang berasal dari Jepang. Shibori berasal dari kata kerja shiboru yang berarti teknik pewarnaan yang mengandalkan ikatan dan celupan.

Dia mengungkapkan semula belajar teknik ini dari sebuah workshop gratis. Dari situ dia pun mengunggah karya-karyanya. Tidak disangka sejumlah orang merespons baik unggahannya itu. Pesanan demi pesanan pun berdatangan. Saking banyaknya, dia sempat kebingungan saat ia harus memenuhi permintaan pemesanan. Apalagi saat itu dia masih dalam tahap belajar sehingga belum menguasai keterampilan ini secara sempurna.

Kendati demikian dia tak mau hal tersebut menjadi menjadi penghalang. Ia pun mulai belajar lagi, dari seseorang yang telah lebih dulu menguasai pembuatan kain shibori dan juga telah mengikuti berbagai pelatihan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jogja serta Dinas Koperasi dan UKM, Tenagakerja dan Transmigrasi Jogja.

Seiring waktu berjalan, dia mulai menguasai pembuatan kain shibori, dan mengembangkan usahanya. Tidak hanya menjual kain shibori yang dihargai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Barang siap pakai pun di jual di workshop-nya di depan Taman Parkir Ngabean, Ngampilan, Jogja.

“Ada yang ready atau custom biasanya desainer bawa model sendiri. Harga relatif antara Rp125.000- jutaan untuk yang ecoprint, itu satu kain bisa untuk big size. Kemudian ada juga barang jadi seperti suvenir itu Rp15.000, kemudian totebag Rp150.000, kaus kisaran Rp150.000-Rp250.000,” ucap Tutty, Sabtu (21/12/2019).

Tak berapa lama, Tutty menggandeng temannya yang bermukim di Temanggung, Lusi Susiwinanti. Kebetulan rekannya tersebut juga telah membuka workshop di sana. “Kalau saya basisnya menjahit, tetapi juga cinta kain-kain. Kemudian pelajari shibori, dan mengembangkan di Temanggung,” kata Lusi.  

Miliki Misi Sosial

Sejumlah barang hasil jadi dari Kana Shibori./Ist./Kana Shibori

Nama ruang usahanya, Kana Shibori, berasal dari nama anak keduanya yang menyandang disabilitas. Karena alasan ini, dia ingin merangkul anak-anak penyandang disabilitas lain dan merambah pasar luar negeri. “Harapan kami bisa kolaborasi bisa mengembangkan merangkul anak difabel. Karena namanya anak difabel, butuh teman. Ke depan Kana Shibori, ingin menjadi Kana Shibori and Friends. Ada kolaborasi antara shibori dengan batik atau gambar,” ucap Tutty.

Selain itu, dia juga bermimpi bisnis ini dapat menjadi wadah bagi anaknya maupun teman-temannya sesama penyandang disabilitas. Dengan harapan, mereka tidak hanya dapat berkreasi, tetapi juga mengembangkan potensinya sehingga menjadi pribadi yang mandiri.

Saat ini, Kana Shibori tidak hanya menjadi tempat jual beli kain shibori tetapi juga melayani kelas pelatihan atau workshop setiap Rabu dan Sabtu untuk kelas regular. Selain itu, tersedia pula pelatihan untuk ecoprint dan batik.