Advertisement
Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Industri Bioskop Tumbuh Tipis
Ilustrasi bioskop. - Solopos/Burhan Aris Nugraha
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Di tengah ketidakpastian ekonomi, industri bioskop pada tahun ini diprediksi akan tetap tumbuh meski tidak cukup signifikan. Ini karena outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 diprediki tumbuh lambat di bawah target pemerintah, yaitu sekitar 4,8-5,1%.
Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Se-Indonesia (GPBSI) Djonny Syafrudin mengatakan pada tahun ini pihaknya menargetkan paling tidak ekspansi layar sudah mencapai 2500 layar. “Dua tahun ke depan, 2021, itu kan targetnya 3.000 layar. Saat ini sudah ada 2.300 layar baik yang grup besar maupun bioskop independen. Kalau untuk 2020, bisa capai 2.500 layar saja sudah bagus,” kata Djonny kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Kamis (9/1).
Advertisement
Selain berharap ekspansi layar lebar bisa meningkat, penjualan tiket bioskop pada tahun ini juga bisa lebih baik. Ini karena berkaca pada realisasi 2019, konsumsi yang melemah juga berdampak pada industri layar lebar.
Bahkan, beberapa bioskop di daerah termasuk XXI menyesuaian tarif dari yang semula Rp30.000 menjadi Rp25.000 – Rp15.000. “Ada juga XXI di daerah yang menurunkan tarif tiket bioskop sampai Rp20.000.”
Head of Sales and Marketing CGV Cinemas Manael Sudarman mengatakan untuk target ekspansi layar CGV pada 2020 masih belum difinalisasi. Begitu pun, dengan target penjualan tiket bioskop. “Kami masih proses finalisasi terkait dengan plan 2020, untuk realisasi penjualan tiket 2019 juga masih dalam proses juga,” kata Manael.
Namun, menurutnya, sepanjang 2019 tren penjualan bioskop CGV masih sesuai dengan target yang ditetapkan. “2019 Ini CGV sesuai dengan target tetap grow double digit untuk total penjualan tiket. Kami lihat penjualan tiket film lokal pun tetap konsisten naik dibanding 2018 yang lalu, beberapa film yang berkontribusi besar terhadap penjualan tiket adalah Dillan, 2 Garis Biru dan Avenger Endgame.”
Secara kontribusi, penjualan tiket untuk film internasional memang masih lebih tinggi dibandingkan realisasi penjualan tiket untuk film nasional. Perbandingannya rata-rata 35% untuk film dalam negeri dan sisanya 65% untuk film luar negeri.
“Kalau secara kontribusi, film lokal dan film foreign tidak ada perubahan dibandingkan tahun sebelumnya, standar rata-rata nasional di 35 lokal-65 foreign. Untuk growth film lokal di CGV juga di double digit, sesuai dengan pencapaian total admission 2019.”
Sebelumnya, Head of Operation CGV Diana Abbas pernah mengatakan tidak menargetkan terlalu banyak untuk 2020. Untuk 2019, katanya, CGV menargetkan ekspansi layar lebar bisa mencapai 81 layar sedangkan pada 2020 bisa mencapai 83 layar. “Sampai September sudah ada 43 layar di Indonesia,” kata Diana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Bulog DIY Gencarkan Operasi Pasar dan Distribusi Beras SPHP
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Perang Iran vs AS-Israel Bikin Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam
- Hindari Konflik, Eksportir DIY Alihkan Jalur Ekspor ke Luar Suez
- Menteri ESDM, Harga BBM Subsidi Tidak Akan Naik hingga Lebaran 2026
- Warga Sleman Siap-siap, Bakal Ada 1.000 Sambungan Jargas Baru
- Mudik Gratis Dinilai Efisien Redam Risiko Kecelakaan Lebaran
- JNE Prediksi Pengiriman Ramadan Naik hingga 30 Persen
- Harga Emas Pegadaian: UBS Rp3,05 Juta dan Galeri24 Rp3,03 Juta
Advertisement
Advertisement








