Mari Jaga Investment Grade untuk Perkuat Rupiah

Mari Jaga Investment Grade untuk Perkuat RupiahIlustrasi emas dan dolar. - JIBI
15 Januari 2020 07:47 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah mesti menjaga momen investment grade untuk mempertahankan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dalam beberapa waktu terakhir ini.

“Guna mempertahankan menguatnya rupiah ini, pemerintah mesti menjaga investment grade untuk menjaga momentum Indonesia layak investasi dari luar, kemudahan perizinan,” kata Pengamat ekonomi sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM, Eko Suwardi, Selasa (14/1).

Omnibus Law yang sedang disiapkan pemerintah diharapkan juga dapat menjaga kondusivitas ekonomi di Indonesia dan keamanan di Indonesia sehingga dapat semakin menguatkan rupiah. Selain itu, kata dia, penguatan produktivitas dan kualitas industri dalam negeri sendiri juga harus ditingkatkan. Terlebih untuk industri yang memiliki potensi ekspor. Kemudian sumber daya manusia (SDM) dengan pendidikan vokasi yang kuat diyakini dapat meningkatkan kemampuan.

Menurut Eko, penguatan rupiah dalam beberapa waktu terakhir disumbang oleh banyaknya investor yang masuk. Selain itu faktor dari luar juga berpengaruh. Misalnya, hubungan antara Amerika Serikat dengan China dan Iran yang tengah bertikai.

Meski saat ini Indonesia dan China tengah bergesekan soal Natuna, dia menilai hal tersebut tak berdampak banyak. Bahkan kondiksi di Indonesia terbilang stabil. Meski ada gesekan dengan China di Natuna, namun menurut Eko tidak berdampak banyak. Namun, dia tetap berharap persoalan ini dapat segera diselesaikan. Menguatnya rupiah juga akan berdampak baik untuk industri yang memproduksi dengan skala ekspor.  Adapun, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa (14/1) berkisar Rp13.685 per US$.

Sebelumnya, dilansir dari Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI) pada Jumat (10/1), Bank Indonesia mengatakan sepanjang dua pekan pertama Januari 2020, nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan sebagai imbas meningkatnya cadangan devisa Desember 2019 sebesar US$129,2 miliar [Rp1.767 triliun].

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai penguatan ini mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi. “Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan 5,1 persen -5,5 persen. Fundamental itu inflasi yang tadi itu rendah, terjaga dan kisaran sasaran tiga persen sampai empat persen,” kata Perry.