Jogja Masih Butuh Hotel Bintang Empat & Lima

Jogja Masih Butuh Hotel Bintang Empat & LimaIlustrasi pembangunan hotel - JIBI
17 Januari 2020 10:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penambahan jumlah Hotel bintang empat dan lima dinilai masih diperlukan di Kota Jogja, dengan prediksi adanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dengan ekonomi tinggi. 

“Saya sudah pernah menghitung bahwa dengan pembukaan YIA (Yogyakarta International Airport) dan pembangunan destinasi. Pada 2021 Kota Jogja akan membutuhkan kamar hotel untuk segmen wisatawan yang lebih tinggi [sosial ekonominya],” kata Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, sekaligus pengamat pariwisata, Ike Janita Dewi, Rabu (15/1).

Karena itu Jogja masih memerlukan hotel bintang empat atau lima. Sementara untuk hotel nonbintang dan bintang satu sampai dua sudah mencukupi suplainya pada 2021. “Namun saya lupa angka persisinya, hitungan kamar. Masih cukup banyak [yang diperlukan untuk bintang empat dan lima],” katanya.

Menurut dia, kemungkinan wisatawan penghasilan tinggi tersebut datang karena ada YIA yang mendatangkan berbagai penerbangan langsung dari sejumlah negara. Dengan demikian, angka kunjungan wisata diproyeksi besar, meski perkiraan jumlahnya belum diketahui.

Ike mengatakan tentunya akan ada kelebihan dan kekurangan jika ada penambahan jumlah hotel bintang empat dan lima tersebut. Kelebihannya, Jogja menjadi destinasi yang bisa mengakomodasi lebih banyak wisatawan dengan kelas sosial ekonomi lebih tinggi. Kelemahannya, jika wisatawan yang berpenghasilan tinggi tersebut, tidak berhasil didatangkan  dalam jumlah besar. Dikhawatirkan hotel bintang empat dan lima akan memperebutkan segmen pasar hotel bintang satu hingga tiga, sehingga terjadi perang harga.

“Karenanya yang perlu diperhatikan upaya untuk mendatangkan maskapai-maskapai besar dan penerbangan langsung harus didukung. Kemudian, komponen destinasi bukan hanya hotel. Atraksi, sumber daya manusia, infrastruktur juga harus berkualitas,” ujarnya. 

Analisis Kebutuhan

Secara umum Ike juga memberikan saran untuk pembangunan hotel harus disertai analisis dampak lingkungan, lalu lintas, dan dampak sosial, budaya yang cermat. Dicontohkannya masalah ketersediaan air, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) lalu lintas. Beberapa hotel saat ini menurut Ike, membuat macet parah di beberapa jalan. Selain juga fasilitas parkir hotel, jangan sampai bis parkir di badan jalan.

Ketua Perhimpulan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Deddy Pranowo Eryono mengatakan untuk hotel bintang empat dan lima saat ini di Kota Jogja memang baru beberapa. Namun, yang perlu diperhatikan menurutnya yang perlu menjadi perhatian, segmen pasar tidak mengambil pelajar dan rombongan bis.

“Ya perlu [bintang empat dan lima] positifnya bisa menambah wisatawan kelas premium karena daya tampung kamar bertambah. Namun dengan catatan tadi segmennya bukan rombongan pelajar,” katanya.

Terkait dengan moratorium hotel di Kota Jogja sendiri, pihak PHRI mendukung dan akan mengawal. Alasannya untuk menjaga persaingan tetap sehat serta melihat kondisi pasar saat ini, moratorium ini berlaku untuk nonbintang dan bintang satu hingga tiga, bukan empat dan lima.