Kinerja Maskapai Terpukul Gara-Gara Rentetan Masalah Berikut

Kinerja Maskapai Terpukul Gara-Gara Rentetan Masalah BerikutIlustrasi penerbangan - Alamy
10 Februari 2020 07:47 WIB Anitana Widya Puspa Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Kinerja industri penerbangan sepanjang kuartal I/2020 diperkirakan mengalami pukulan telak. Situasi ini disebabkan musim sepi penumpang (low season) sekaligus imbas dari kebijakan penyetopan penerbangan untuk sementara dari dan menuju ke China oleh pemerintah.

Semula, para pelaku dan industri aviasi di Indonesia memiliki target kembali bertumbuh pesat pada tahun ini setelah sempat stagnan pada tahun lalu. Konsultan penerbangan dari Communic Avia Gerry Soejatman mengatakan tiga bulan berjalan pada awal tahun lazimnya selalu menjadi momok bagi maskapai dengan kondisi sepinya penumpang. Untuk mengurangi dampak sepinya penumpang, tutur dia, sejumlah maskapai seperti Citilink, Sriwijaya, dan Lion Air akan banyak memanfaatkan pesawat sewa (charter) untuk wisatawan dari China.

Selain itu, negara dengan kasus terindikasi Virus Corona juga banyak berasal dari Singapura. Baru-baru ini, otoritas negri singa juga telah menaikkan level waspada virus nCOV2019 ke level oranye. Level ini merupakan satu level di bawah level tertinggi, yakni merah.

“Virus Corona ini pukulan keras, apalagi negara dengan kasus terbanyak di luar China sekarang adalah Singapura. Ini juga cukup memukul bagi maskapai-maskapai Indonesia yang terbang ke Singapura,” jelasnya, Minggu (8/2).

Namun, lanjut dia, selama Virus Corona ini tidak mewabah di Indonesia, maka imbasnya bagi  penerbangan domestik tak signifikan. Dampak berbeda, paparnya akan terjadi jika di Indonesia terindikasi masuknya virus hingga mewabah.

Kondisi serupa, ujar dia yang telah terjadi di China. Negri tirai bambu telah diprediksikan kehilangan pangsa pasar penerbangan domestik hingga 60% sejak Virus Corona menjangkiti warganya. Padahal, musim perayaan Tahun Baru Imlek semestinya menjadi periode tersibuk bagi mereka.

Dia pun mengharapkan pada periode ini sudah mendekati puncak dari wabah nCOV2019. Ketika puncak wabah sudah dilewati, bebernya, maka perdagangan dan perjalanan akan mulai pulih kembali.

Kendati sulit untuk melawan pola sepinya penumpang pada kuartal pertama, tetapi Gerry mengharapkan jumlah penumpang untuk kepentingan bisnis (perjalanan dinas) pada tahun ini setidaknya sama atau bahkan melebihi pada 2018.

Sepanjang kuartal pertama tahun lalu, klaimnya telah menjadi rekor penerbangan tersepi selama 10 tahun terakhir. Penyebab sedikitnya perjalanan dinas, kata dia, karena faktor pemilihan umum presiden dan wakil presiden.

“Kabar baiknya kami memang masih tunggu datanya. Namun, sepertinya sepertinya jumlah perjalanan dinas di awal 2020 sama atau melebihi 2018. Kami tetap berharap pada 2020 pertumbuhan bisa pulih ke angka melanjutkan pertumbuhan pada 2018,” tekannya.

Tahun lalu paparnya memang menjadi kondisi kurang menguntungkan bagi industri aviasi tanah air. Kenaikan biaya pada akhir 2018, sebutnya mengakibatkan banyak maskapai banyak memangkas kapasitas karena tarif batas atas tidak ikut naik. Alhasil, harga tiket yang menempel pada tarif batas atas sepanjang 2019 dan mengakibatnya sedikitnya tiket murah karena lebih sulit disubsidi oleh tiket mahal.

Sumber : Bisnis Indonesia