Yah .. Industri Pariwisata Berpotensi Kehilangan Devisa Rp7,6 Triliun

Yah .. Industri Pariwisata Berpotensi Kehilangan Devisa Rp7,6 TriliunIlustrasi Candi Borobudur. - Ist/Borobudur Park
07 Maret 2020 09:22 WIB Dewi A. Zuhriyah & Anitana Widya Puspa Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Industri pariwisata di Indonesia berpotensi kehilangan devisa senilai US$538 juta [Rp7,6 triliun] karena virus Corona.

Direktur Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif BAPPENAS Leonardo AA Teguh Sambodo mengatakan dipicu oleh hilangnya kunjungan wisatawan China yang diprediksi sebanyak 455.000 orang dengan estimasi penanganan dunia selesai dalam enam bulan. “Devisanya US$500-an juta dolar yang dari China. Karena spending dari turis China cukup tinggi US$1.180 [Rp16,7 juta] per kunjungan. Jadi ini cukup tinggi dan memang turis China kan yang banyak di Indonesia setelah Malaysia.  Ini dengan asumsi penanganan dunia selesai enam bulan,” kata Teguh, Jumat (6/3).

Teguh menjelaskan realisasi kunjungan wisman asal China pada 2019 mencapai 2,1 juta orang. Menurutnya, jika keseluruhan 2,1 juta tersebut dilarang ke Indonesia, paling buruh Indonesia akan kehilangan wisman China sebanyak 455.000 orang dalam setahun.

“Itu enggak hanya dampak dari turis China yang datang tetapi juga persepsi. Untungnya persepsi ini berubah, semula ini dikira wabah untuk Asia, ternyata sekarang di Italia, Jerman, Inggris, Amerika Serikat. Jadi asumsi kami yang tadinya 400.000 mungkin terkoreksi mungkin dengan ini orang-orang juga sudah belajar penanganan virusnya seperti apa dan juga sudah ada obat dan juga pola pembelajaran lebih baik.”

Karena itu,, dia mengatakan saat ini menjadi kesempatan bagi pariwisata Indonesia untuk menggenjot wisatawan dalam negeri atau wisatawan domestik. “Yang penting bukan berapa turunnya tetapi kalau sudah reda, kita sudah siap untuk rebound lagi,” ujarnya.

 

Penerbangan Batal

Direktur Utama PT Angkasa Pura I (persero) Faik Fahmi mengatakan secara resmi Viet Jet, Scoot, hingga Korean Air telah mengajukan untuk memberhentikan secara sementara penerbangan ke Bali akibat virus Covid-19 yang meluas.

“Jadi tiga penerbangan international menutup sementara ke bali karena adanya wabah virus Corona. Dampak dari ini, kemungkinan pada Maret-April kemungkinan akan lebih besar lagi. Ini saya kira satu hal terjadi dan dirasakan oleh pelaku bisnis,” jelasnya, Jumat.

Sejauh ini, kata Faik penanganan maksimal menghadapi virus Corona dilakukan di seluruh bandara yang dikelola, terutama di Bali. Secara prosedural sebelum penumpang di bandara mendarat, penumpang diwajibkan mengisi health allert card dan dilakukan pemeriksaan melalui thermal scanner.

Dia menuturkan bagi penumpang dengan suhu dibawah 38 derajat celcius bisa melewati tetapi pihaknya harus mengecek kartu health alert penumpang untuk melihat riwayat kunjungan. Bagi penumpang yang telah lolos dari seleksi tersesbut dapat melanjutkan untuk tahapan pemeriksaan selanjutnya.

Namun, jika ditemukan dari pemeriksaan health card penumpang pernah berkunjung ke sejumlah wilayah yang telah dibatasi, maka diperlukan adanya penanganan khusus. Faik juga menambahkan untuk meningkatkan kewaspadaan dilakukan proses disinfektan, di area bandara yang sering menjadi tempat berkumpul pengunjung. Penyemprotan disinfektan rutin, kata dia dilakuakn mulai dari counter check in hingga troli barang guna memastikan tidak ada penyebaran virus.

“Kami juga sudah siapkan hand sanitizer di tempat yang strategis. Untuk memastikan petugas terjaga secara maksimum, kami juga menggunakan masker, kacamata pelindung termasuk sarung tangan. Upaya tersebut kami teruskan sambil secara rutin dilakukan monitor,” tekannya.

Sumber : b