Pelaku Usaha Pariwisata Jogja Sesuaikan Gaji Karyawan

Pelaku Usaha Pariwisata Jogja Sesuaikan Gaji KaryawanWisatawan menumpang becak maupun andong untuk berbelanja oleh-oleh khas Jogja di Jalan Rotowijayan, Yogyakarta. - Harian Jogja/ Desi Suryanto
21 Maret 2020 10:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY menilai penyesuaian gaji pada karyawan ditengah pandemi Corona disesuaikan dengan kebijakan tiap perusahaan masing-masing. 

“Penyesuaian pasti, besarannya tergantung kemampuan perusahaan masing-masing. Kami industri masih menunggu kepastian kebijakan Gubernur DIY mengenai regulasi DIY dalam menghadapi Corona kedepan,” kata Ketua GIPI, Bobby Ardyanto Setyo Ajie, Jumat (20/3).

Penyesuaian tersebut tidak lepas dari pertimbangan pendapatan yang 0%, industri tidak akan mampu melakukan operasional perusahaannya. Dari sisi biro perjalanan wisata sudah 0% tidak ada operasional tour, dari sisi hotel dan resto kurang lebih tinggal 10%-20%. Transportasi demikian juga di bawah 5%.

“Sampai hari ini semua industri sedang merekap karena terakhir pertemuan dengan Gubernur DIY di Ndalem Gamelan, industri diminta rekap semua kerugian dan keinginan suporting kebijakan pemerintah seperti apa,” katanya.

Dikatakan Bobby, diharapkan fokus terhadap kesehatan menjadi prioritas utama untuk segera menyelesaikan permasalahan Corona ini. “Dan tentunya pemberian kebijakan dari sisi suporting kebijakan ekonomi mengenai kewajiban-kewajiban industri yang tentunya belum bisa dilakukan dengan kondisi seperti ini [rescheduling],” ucapnya.

Sebelumnya pelaku wisata di tour and travel juga memilih berhenti sejenak. Pemilik Trend Travel & Tour, Edwin Ismedi Himna mengatakan berhenti sejenak dalam memberikan perjalanan karena merasa tidak efektif di tengah kondisi saat ini. “Sudah tidak efektif masuk kerja, karena beberapa reservasi yang terdekat Maret ini sudah dibatalkan oleh partner kami,” ujar mantan Ketua Asita DIY itu.

Ia mengatakan berencana menghentikan sementara aktivitas biro perjalanannya hingga Rabu (1/4). Diharapkannya kepada pemerintah, jika memang akan membatasi pergerakan wisatawan mancanegara  atau wisatawan nusantara, seharusnya semua Dinas Pariwisata Provinsi hingga Kabupaten/Kota dapat bersinergi dan satu kata untuk sepakat memberlakukannya. Serta ada informasi resmi dari Kepala Daerah.

“Saat ini yang jelas zero transaction. Biasanya dua bulan sebelum Ramadan cukup bagus kunjungannya, terutama domestik dan Malaysia. Ya harapannya Juni, Juli dan seterusnya, kami siap menerima lonjakan kedatangan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara di DIY,” ujarnya.

 

Penjualan Oleh-Oleh

Pemilik Cokelat nDalem, Meika Hazim mengatakan adanya virus Corona ini turut berdampak pada penjualan, setidaknya dalam satu pekan ini. “Berpengaruh tetapi kami belum menghitung, karena beberapa rencana kunjungan dibatalkan. Kelas kewirausahaan business visit harus kami pending,” ujar Meika, Jumat (20/3).

Cokelat Ndalem pun membatasi jam buka gerai dari pukul 08.00 WIB dan tutup lebih awal pukul 16.00 WIB, dari yang sebelumnya tutup pukul 21.00 WIB. “Kami juga menghentikan produksi sementara mulai 18 Maret sampai 25 Maret, dan akan ditinjau lagi jika kondisi belum membaik,” katanya.

Menurutnya, tim manajemen kantor juga diberlakukan work from home, hanya ke kantor jika tidak bisa ditunda pekerjaannya yang harus dikerjakan di kantor. Ia mengatakan momen sepi seperti ini biasanya terjadi saat dua minggu awal masuk Ramadan. Namun, kondisi saat ini tidak bisa diprediksi akan sampai kapan. Momen Lebaran yang biasa penjualan tinggi, kali ini ia tidak bisa memprediksi.

Hal senada diungkapkan, Marketing Communication Chocolate Monggo, Aji Prasida. Menurut dia, Chocolate Monggo juga turut terdampak adanya penurunan pembeli, dampak virus Corona. “Untuk dampaknya kita rasakan paling signifikan semenjak minggu lalu. Saat ini bisa berkurang sampai dengan 60 persen-70 persen termasuk produksi kami,” ucap Aji.

Monggo saat ini sudah melakukan upaya sesuai dengan protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh WHO dan pemerintah. “Kami menyediakan hand sanitizer untuk karyawan dan pengunjung. Kesehatan karyawan juga terus kami pantau. Karyawan dan SPG di showroom juga mengenakan masker. Sampling cokelat kami tiadakan sementara,” ucapnya.