Sejak Ada Corona, Masyarakat Lebih Rajin Menabung

Sejak Ada Corona, Masyarakat Lebih Rajin MenabungIlustrasi pengunjung melintas didepan mesin anjungan tunai mandiri (ATM). - Bisnis Indonesia/Endang Muchtar
01 April 2020 09:22 WIB M. Richard & Maria Elena Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Peningkatan dana pihak ketiga perbankan awal tahun lebih disebabkan oleh kecenderungan masyartakat dan pelaku usaha lebih rajin menabung. Perbankan mengaku tidak memberikan suku bunga dana spesial untuk lebih melonggarkan likuiditasnya. 

Sebagai informasi, Bank Indonesia mencatat dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan per Februari 2020 sebesar Rp5.806,9 triliun, atau tumbuh 7,5% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Capaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan Januari 2020, di mana DPK tercatat sebesar Rp5.721,9 triliun atau tumbuh 6,6% yoy.

Presiden Direktur PT Bank Pan Indonesia Tbk Herwidayatmo menyebutkan perbankan saat ini memiliki kondisi likuiditas yang tergolong longgar. Perbankan pun tidak memerlukan upaya tambahan untuk melonggarkan kembali likuiditasnya dengan pemberian suku bunga dana spesial.

"Situasi lagi susah begini, tidak akan mungkin didorong dengan DPK dengan biaya bunga yang lebih tinggi. Situasi ekonomi lesu, nasabah kredit banyak yang minta keringanan," jelasnya, Selasa (31/3).

Herwidayatmo berpendapat peningkatan DPK yang cukup tinggi pada awal tahun ini pun didorong oleh banyaknya nasabah yang menjual aset seperti surat berharga serta saham, sehingga lebih memilih uang tunai sebagai sarana investasi yang aman. "Orang banyak yang pada jual aset, terutama yang berupa surat berharga, dan melihat situasi seperti sekarang ini, mereka lebih nyaman untuk memegang cash, yang disimpan di bank," katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Utama PT BRI Agroniaga Tbk. Ebeneser Girsang. Dia mengatakan perseroan tidak mengambil langkah peningaktan suku bunga dana pada awal tuhin ini.

"Kami lebih fokus pada peningaktan efisiensi operasional. Tentunya kami pun tidak akan meningkatkan suku bunga dana apa lagi dengan special rate," imbuhnya.

 

Menahan Belanja

Direktur Konsumer PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan dengan kondisi merebaknya Covid-19, masyarakat cenderung menahan belanja. Akibatnya, masyarakat lebih memilih menyimpan dananya ketimbang mengambil kredit.

"Selain itu ada social distancing, juga mengingat wabah covid-19 belum tahu sampai seberapa besar dampaknya terhadap usaha maupun kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat lebih suka mengambil jalan yang rendah risiko dengan menempatkan cash di bank dalam bentuk CASA dan deposito," katanya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Selasa.

Di samping rendahnya permintaan kredit, Lani menuturkan bank saat ini juga lebih selektif dalam menyalurkan kredit, dengan lebih memperketat syarat kreditnya. Peningkatan DPK tersebut dikontribusi oleh semua jenis simpanan, baik giro, tabungan, maupun simpanan berjangka.

Sementara, bisnis utama perbankan, yakni penyaluran kredit, tercatat melambat hampir pada seluruh segmen, Per Februari 2020, kredit perbankan yang disalurkan tercatat sebesar Rp5.544,0 triiun atau tumbuh 5,5% secara tahunan. Berdasarkan jenis penggunaan, perlambatan kredit juga terjadi pada segmen modal kerja, investasi dan konsumsi.

Sumber : Bisnis Indonesia