OJOL JOGJA BERBAGI : Tetap Berbagi Walau Tidak Gacor

OJOL JOGJA BERBAGI : Tetap Berbagi Walau Tidak GacorSukarelawan Ojol Jogja Berbagi membagikan bungkusan nasi di kawasan Nitikan, Sorosutan, Umbulharjo, Jogja, Rabu (15/4)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
29 April 2020 05:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Meski tidak bisa gacor (gampang cari orderan) semenjak pandemi Covid-19, menunggu dari pagi hari hingga malam hari, Ojol Jogja Berbagi atau gerakan driver lintas aplikatorojek online ini tetap mencoba menggalang dana dan berbagi.

Di salah satu sudut perempatan dekat Mako Brimob, di Baciro, Jogja, sejumlah driver ojek online (Ojol) nampak duduk-duduk. Tempat tersebut memang menjadi salah satu basecamp dari komunitas driver ojol di Jogja. Namun beberapa waktu terakhir, lokasi tersebut tidak hanya untuk anggota komunitas pemilik basecamp tersebut. Sejumlah driver dari aplikator lain dan berbeda komunitas, sering datang ke tempat itu.

Sebelumnya, para ojol ini memanfaatkan tempat tersebut untuk menyelesaikan order dan menjemput order dari pelanggan. Kini, pemandangan itu jarang sekali, mereka lebih banyak duduk-duduk dan mengobrol dengan rekan driver yang lain, sesekali mereka memeriksa handphone. Bahkan sebagian dari mereka ada yang datang ke basecamp bukan karena telah menyelesaikan orderan, tetapi mencoba mencari titik lain agar nyantol pesanan.

Sayang hingga Matahari semakin tinggi masih banyak yang belum menerima pesanan. “Dari pagi tadi jam 08.00 WIB sampai ini mau jam 10.30 WIB, belum ada orderan. Tadi mencoba muter juga siapa tahu nyantol, ternyata tetap enggak ada. Susah sekarang semenjak Covid-19 ini,” ucap salah satu driver Ojol, Sulis, Rabu (15/4).

Meski begitu, ia mencoba memahami keadaan saat ini yang memang sulit bagi banyak orang. Ia kembali berkumpul dan bercerita dengan rekan-rekannya.  Nasib yang sama juga dirasakan Hartono, ia mengeluhkan sudah tiga hari ini hanya dapat satu kali orderan. Uang tabungan yang ada pun, harus digunakan, untuk menyambung hidup.

Biasa dalam sehari dapat membawa pesanan sembilan-13, sekarang dia harus merelakan orderan itu. Pembatasan sosial dan pengurangan aktivias masyarakat di luar menjadi penyebab sepinya pesanan. Meski begitu, mereka tetap ingin membantu sesama. Mereka yang tergabung sebagai sukarelawan Ojol Jogja Berbagi berencana membagikan bungkusan nasi, bagi mitra driver lain yang berada di jalan serta para pekerja informal lain di jalanan. “Ya kami menyadari yang berada di bawah kami masih banyak, saling mengisilah,” ujarnya.  

Arah Gerakan

Sembari menunggu datangnya ratusan nasi bungkus yang akan dibagikan siang itu, Koordinator Gerakan Ojol Jogja Berbagi Janu Prambudi menceritakan gerakan ini tidak lepas dari solidaritas yang digalang oleh para driver saat terjadi gesekan dengan debt collector, beberapa waktu yang lalu. Hingga terbentuklah Forum Komunikasi (Forkom) driver lintas aplikator.

Saat itu, kata dia, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X yang mendorong sesama pengemudi untuk menciptakan situasi DIY tetap kondusif. Setelah persoalan tersebut surut dan muncul pandemi Covid-19 serta adanya janji pemerintah untuk relaksasi kredit, forum ini berperan untuk mendamping mitra driver. Seiring berjalannya waktu terbentuklah Ojol Jogja Berbagi.

Janu menuturkan gerakan ini juga menjadi cara para pengemudi menjawab atas isu-isu kurang simpatik yang dilontarkan sesama pengemudi ojol di daerah lain. “Itu kan justru membuat masyarakat tidak respect, seakan merasa ojol yang paling menderita.  Gerakan ini juga ingin menunjukkan tidak semua seperti itu. Kami ingin membantu tidak hanya sesama driver ojol, tetapi juga pekerja informal lain yang ada di jalanan. Kami menyadari yang terkena dampak Covid-19 ini banyak,” kata Janu.

 

Janu juga menyadari dalam kondisi ini, tidak hanya ojol yang mengalami kesulitan sehingga penting adanya solidaritas, saling membantu dan tidak arogan. Berbagai langkah gerakan Ojol Jogja Berbagi pun telah dilakukan, baik bekerja sama dengan masyarakat umum atau dengan berbagai lembaga.

Penyaluran beruba kebutuhan pokok, masker telah dilakukan beberapa kali. Ke depan Ojol Jogja Berbagi ini, ingin menyasar tenaga medis yang perannya sangat penting di masa banyaknya orang yang jatuh sakit ini. Meski saat ini masih terkendala minimnya anggaran yang terkumpul, tetapi donasi terus dibuka.

Penggalangan dana, kata dia, dikumpulkan dengan berbagai cara. Misalnya bekerja sama dengan komunitas yang ada di DIY. Setiap komunitas yang ada akan dititipkan sebuah celengan dengan harapan para anggota turut berdonasi dengan seikhlasnya. Setiap satu hingga dua pekan, celengan itu akan diambil dan akan dibelanjakan untuk aksi sosial Ojol Jogja Berbagi.

“Kami harapannya  Covid-19 ini berakhir. Namun, gerakan ini tidak berakhir, kami dapat terus membantu dengan aksi sosial. Entah nanti wujudnya yayasan atau lembaga,” ucapnya.

 

Berbagi Nasi

Teriknya Matahari tidak menyurutkan semangat Ojol Jogja Berbagi, siang itu. Semua nasi telah dibungkus, dan telah masuk di empat kardus besar. Beberapa sukarelawan mulai mengangkat dan memasukan ke mobil yang telah disiapkan. Kali ini sasaran mereka untuk berbagi di kawasan Nitikan, Sorosutan, Umbulharjo, Jogja.

Tidak semua ikut berangkat waktu itu, mengingat imbauan dari pemerintah untuk tidak membuat kerumunan, karena beberapa driver lain juga telah menunggu di sasaran pembagian. Mengenakan jaket sehari-hari ketika bekerja, masker dan helm, sejumlah sukarelawan mulai bergerak dengan kendaraan roda dua mengikuti mobil yang mengangkut kardus nasi.

Tiba di lokasi sasaran pembagian mereka pun berdoa agar kegiatan hari itu lancar. Pembagian kelompok untuk menyasar sejumlah titik pun dilakukan. Penuh semangat, mereka mulai bergerak membagikan bungkusan nasi. Kurang dari satu jam nasi yang mereka bagikan telah habis.

Sukarelawan lainnya, Indayani yang juga menyempatkan diri membantu membagikan nasi, mengatakan meski belum bisa membantu secara materi yang lebih, setidaknya dengan tenaga kondisi yang masih sehat ia dapat membantu. “Saya masih punya tenaga, walaupun tidak punya materi. Bantu-bantu bagi nasi. Ya walaupun kondisi berat juga saat ini pendapatan menurun, menghidupi dua anak,” katanya.