2 Bulan Terakhir, Nasabah Tajir Banyak Simpan Uang di Bank

2 Bulan Terakhir, Nasabah Tajir Banyak Simpan Uang di BankKaryawan merapikan uang di cash center Bank BNI, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
02 Oktober 2020 10:17 WIB Azizah Nur Alfi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih dari enam bulan di Tanah Air. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat nominal simpanan rekening jumbo terus bertambah setidaknya dalam dua bulan terakhir. Bahkan, pertumbuhannya melebihi pertumbuhan nominal simpanan secara keseluruhan.

Dalam laporan distribusi simpanan bank umum posisi Agustus 2020 yang dirilis LPS, nominal simpanan per Agustus 2020 yakni Rp6.563 triliun atau bertambah Rp175 triliun dari nominal simpanan per Juli 2020.

Baca juga: Pencarian Rumah secara Online Meningkat Saat Pandemi

Pergerakan simpanan dengan tiering nominal di atas Rp5 miliar mengalami kenaikan paling tinggi. Nominal simpanan di atas Rp5 miliar bertambah Rp143 triliun menjadi Rp3.186 triliun, atau naik 4,7 persen secara month to month.

Begitu pula pada Juni-Juli 2020, nominal simpanan di atas Rp5 miliar juga naik paling tinggi di antara segmen lainnya. Nominal simpanan di atas Rp5 miliar per Juli 2020 bertambah Rp31 triliun menjadi Rp3.043 triliun, dari posisi Juni 2020 sebesar Rp3.012 triliun.

Berdasarkan jumlah rekening, akun rekening per Agustus 2020 sebanyak 330,81 juta atau bertambah 11,11 juta dari jumlah rekening per Juli 2020. Penambahan itu paling banyak berasal dari tiering nominal kurang dari Rp100 juta.

Baca juga: Jokowi Minta Bantuan Modal Kerja Jangan Dipakai Beli HP atau Cicil Motor

Rekening dengan tiering nominal kurang dari Rp100 juta per Agustus 2020 bertambah 11,1 juta menjadi 325,10 juta, atau naik 3,53 persen dari posisi Juli 2020. Sementara itu, rekening dengan tiering nominal di atas Rp5 miliar bertambah 1.846 menjadi 107.020, atau naik 1,76 persen.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menyampaikan kenaikan nominal simpanan di atas Rp5 miliar tersebut menunjukkan kelas menengah atas cenderung melakukan saving sebagai antisipasi memburuknya ekonomi beberapa bulan ke depan.

"Ini juga yang menjelaskan kenapa ada deflasi selama beberapa bulan berturut-turut karena masyarakat yang memiliki uang menahan belanja," jelasnya, Kamis (1/10/2020).

Sementara itu, lanjutnya, bagi bank tentu kondisi ini berdampak negatif bagi profitabilitas. Di sisi lain, pertumbuhan kredit per Agustus hanya 1 persen yoy.

"Jika simpanan terus naik, sementara kredit lambat akan terjadi disintermediasi keuangan. Kondisi ini makin memperlambat pemulihan ekonomi," imbuhnya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran kredit perbankan sampai dengan Agustus 2020 naik 1,04 persen year on year menjadi Rp5.522 triliun.

Sumber : Bisnis.com