Stimulus Dikucurkan, Kredit UMKM Mulai Tumbuh

Stimulus Dikucurkan, Kredit UMKM Mulai TumbuhPerajin menatah tembaga saat pembuatan kerajinan tembaga motif gunungan wayang di Tumang, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (14/9 - 2018)./ Antara/Aloysius Jarot Nugroho
30 Oktober 2020 06:17 WIB Azizah Nur Alfi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Dikucurkannya stimulus dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mulai Agustus 2020, mendorong pertumbuhan kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

Kredit UMKM mulai menunjukkan perkembangan positif per Agustus 2020, didorong pemberian stimulus dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pemberian stimulus oleh pemerintah sangat membantu UMKM sehingga perkembangan kreditnya cukup bagus. Bahkan kredit UMKM mulai menunjukkan pertumbuhan positif secara month to month.

Pertumbuhan ini didorong penyaluran kredit dari penempatan uang negara di bank Himbara. Ini sekaligus mengkompensasi penurunan kredit yang terjadi sejak Maret 2020.

Data Statistik Perbankan Indonesia OJK mencatat kredit UMKM terus mengalami penurunan sejak Maret 2020 hingga Juli 2020. Kredit UMKM mulai tumbuh per Agustus 2020 menjadi sebesar Rp1.015,93 triliun, dari posisi Juli 2020 sebesar Rp1.013,75 triliun.

Bank Persero mencatatkan baki debet paling besar dibandingkan kelompok bank lainnya, yakni Rp614,50 triliun atau tumbuh 0,48 persen secara mom. Disusul bank swasta nasional sebesar Rp322,91 triliun, BPD Rp70,21 triliun, serta bank asing dan campuran Rp8,31 triliun.

Pertumbuhan kredit UMKM berlanjut pada bulan berikutnya. Per September 2020, kredit UMKM tercatat sebesar Rp1.023,6 triliun. Berdasarkan penggunannya, kredit tersebut terdiri dari modal kerja sebesar Rp748,7 triliun dan investasi Rp275 triliun.

"Stimulus yang dikeluarkan pemerintah sangat membantu sehingga UMKM perkembangannya cukup bagus. Bahkan secara month to month sudah positif di bulan Agustus ini," katanya, Selasa (27/10/2020).

Wimboh memerinci bank Himbara telah menerima penempatan uang negara senilai total Rp47,5 triliun, yang mendorong kredit sebesar Rp166,39 triliun.

Adapun, penempatan uang negara di BPD sebesar Rp14 triliun mendorong penyaluran kredit sebesar Rp17,39 triliun. Berikutnya, penempatan uang negara di bank syariah sebesar Rp3 triliun telah disalurkan dalam bentuk kredit sebesar Rp1,7 triliun.

Lebih lanjut, OJK akan terus mendorong penyaluran kredit dari penempatan dana pemerintah yang ditempatkan di beberapa lembaga keuangan.

Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan mini figur tokoh berbahan resin dan fiberglas, di Jajar, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (28/2/2019)./ANTARA-Mohammad Ayudha

"Jadi, kami akan terus pantau dan keyakinan bahwa ini akan segera pulih, sehingga para pengusaha bisa memulai untuk memperbesar operasionalnya lagi," imbuhnya.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Darmawan Junaidi menyampaikan penyaluran kredit PEN mencapai Rp42,6 triliun per September 2020, sektor UMKM dan padat karya. Di sektor UMKM, penyaluran kredit PEN menjangkau 132.939 debitur dengan nilai pencairan Rp21,4 triliun.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Sumut Syahdan Ridwan Siregar menyampaikan realisasi kredit modal kerja UMKM per September 2020 sebesar Rp7,18 triliun. Realisasi tersebut setara dengan 91 persen dari target sampai akhir tahun sebesar Rp78,3 triliun.

Bank Sumut mengantongi penempatan uang negera sebesar Rp1 triliun. Perseroan wajib menyalurkan kredit dari dana tersebut sebesar dua kali dari penempatan.

"Bank Sumut berkewajiban menyalurkan dana tersebut ke sektor produktif sehingga diharapkan target tersebut tercapai di Desember 2020," katanya.

BPD DIY

Direktur Pemasaran BPD DIY Raden Agus Trimurjanto mengatakan kredit BPD DIY sebesar Rp8,65 triliun per September 2020 atau tumbuh 4,7 persen secara yoy. Kredit disalurkan ke sektor produktif sebesar 49 persen, sedangkan 51 persen lainnya ke sektor konsumtif. Di sektor produktif, penyaluran kredit kepada UMKM mencapai 47 persen atau senilai Rp1,98 triliun.

Selain penempatan uang negara, pemerintah memberikan sejumlah stimulus kepada UMKM seperti subsidi bunga 6 bulan dan premi penjaminan kredit modal kerja yang diluncurkan pada awal Juli 2020.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan stimulus subsidi bunga yang diberikan pemerintah memang bukan ditujukan agar pertumbuhan kredit di atas normal. Namun, pemberian stimulus ini untuk menahan penurunan agar tidak terlalu dalam.

Di tengah pandemi yang masih terus meningkat, aktivitas ekonomi masih terbatas. Permintaan kredit tetap akan rendah walaupun diberikan subsidi.

Di sisi lain, perbankan juga harus sangat hati-hati memilih debitur yang usahanya masih sehat dan mampu memenuhi kewajibannya.

"Jadi, kalau melihat angka pertumbuhan kredit modal kerja yang masih positif secara month to month terlihat ada dampak positif dari stimulus subsidi bunga," katanya pada awal pekan ini.

Sumber : JIBI/Bisnis.com