Reaktivasi Pariwisata sebagai Jangkar Ekonomi

Reaktivasi Pariwisata sebagai Jangkar EkonomiGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan keynote speech dalam Seminar Nasional Pariwisata DIY Tahun 2020, Sinergi Reaktivasi Pariwisata DIY di Era New Normal Sebagai Jangkar Perekonomian Daerah, Rabu (2/12/2020). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo.
03 Desember 2020 07:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sektor pariwisata diyakini menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi di masa perbaikan ekonomi, di tengah pandemi Covid-19.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan sektor pariwisata menjadi salah satu perhatian BI. “Pariwisata merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang potensial. Pariwisata juga menjadi penyumbang devisa. Pariwisata dapat menyerap tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi,” ucap Perry, dalam Seminar Nasional Pariwisata DIY Tahun 2020, Sinergi Reaktivasi Pariwisata DIY di Era New Normal Sebagai Jangkar Perekonomian Daerah, Rabu (2/12/2020).  

Pemulihan secara bertahap pariwisata dapat mendorong kegiatan ekonomi di masyarakat baik konsumsi, maupun berbagai kegiatan dan akan menjadi efek pengganda bagi ekonomi yang lain. Di tengah pandemi Covid-19 ini, Perry mengatakan memang harus ada penyesuaian dalam pembukaan kembali pariwisata.

Hal yang utama dikatakan Perry perlu jadi perhatian meyakinkan objek wisata, akomodasi, dan berbagai pendukung wisata lainnya aman. Selain itu juga perlu adanya penyesuaian-penyesuaian paket saat ini.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio mengatakan dampak Covid-19 memang sangat menghantam dunia pariwisata. Namun, beberapa minggu atau bulan terakhir telah menunjukan tanda-tanda kebangkitan. “Sudah mulai menggeliat termasuk di Jogja saya lihat. Itu terjadi karena pelaksanaan protokol yang baik, wisata tidak bangkit tanpa protokol kesehatan yang baik,” ujar Wishnutama.

Wishnutama mengungkapkan Kementerian juga berupaya untuk memberikan sertifikasi secara gratis pada pelaku wisata yang telah memenuhi kriteria penerapan pencegahan Covid-19. Kampanye Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE) juga terus terus dilakukan.

Strategi besar kepariwisataan pun telah disiapkan oleh Kementerian. Seperti shifting dari quantity tourism ke quality tourism, membangun konektivitas yang terintegrasi, membangun infrastruktur yang mendukung pariwisata, memperketat koordinasi dengan Kementerian/ Lembaga dan stakeholders.

Selain itu juga meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (creativity and hospitality), mengembangkan digitalisasi yang sesuai dengan kemajuan era, membangun destinasi yang menerapkan protokol keamanan, keselamatan dan kesehatan. Menciptakan daya tarik dan atraksi yang kompetitif, merencanakan strategi pemasaran dan promosi yang efektif. Serta, menciptakan ekosistem dan supply chain agar menciptakan dampak ekonomi dan kemajuan pada masyarakat setempat.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengapresiasi terselenggaranya seminar ini. Menurutnya kegiatan ini momentum yang baik. “Sinergi reaktivasi artinya bergotong royong melipatken gandakan energi dan kembali melakukan aktivitas untuk bangkit bersama, meski tetap dibatasi protokol kesehatan,” ucap Sultan.

Reaktivasi kegiatan kepariwisataan sebagai jangkar perekonomian DIY. Pariwisata disebut jangkar, mengadaptasi Bank jangkar adalah yang mampu tumbuh berkelanjutan, dan menjadi konsolidator serta berfungsi intermediator, guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Mengadopsi pengertian itu jelaslah apa yang dimaksud pariwisata jangkar dan bersama sektor pendidikan menjadi penyangga ekonomi DIY.

Untuk menjadikan wisata sebagai jangkar ekonomi DIY, memerlukan kolaborasi sinergitas antar pemangku kepentingan. Salah satunya adalah membangkitkan kembali pariwisata berbasis komunitas yang menjadi ciri khas DIY. Kebangkitannya akan berdampak ganda pada sektor kaitannya. Terutama pada kelompok masyarakat.

“Dalam upaya menyelaraskan protokol kesehatan dan protokol ekonomi, atau dalam bahasa sederhana waras lan wareg konsekuensinya pembukaan destinasi wisata harus memperhatikan perkembangan situasi terakhir kasus Covid-19,” ucapnya.

Sultan berpesan DIY siap menyambut tamu wisatawan, seraya selalu menjamin dan menjaga wisatawan. Spirit itu yang menurutnya perlu untuk terus dijaga dan gerakan bersama dengan harapan pandemi segera berakhir agar dunia kembali normal seperti sebelumnya.

Kepala BI DIY, Hilman Tisnawan mengatakan tema yang diangkat terkait pariwisata ini tidak lepas dari potensi yang dimiliki oleh DIY. “DIY identik pariwisata dan pendidikan yang berbasis budaya. Kedua sektor tersebut merupakan penyangga perekonomian di DIY. Kontribusi terhadap PDRB menurut data BPS 64,6%. Hasil riset kami juga menunjukan konsumsi wisatawan dan mahasiswa dapat mencapai 28,8 PDRB DIY,” ujarnya.

Hilman juga mengungkapkan kunjungan wisatawan ke DIY juga berdampak pada daerah sekitar di DIY. Ia mengatakan di tengah pandemi ini memang harus ada penyesuaian dari yang sebelumnya mass tourism menjadi quality tourism.

Diharapkan dengan terselenggaranya kegiatan seminar ini, sebagai upaya sharing dan mengumpulkan informasi yang selanjutnya akan ditindaklanjuti perumusan kebijakan pengembangan pariwisata di DIY.

Pada diskusi yang diselenggarakan BI DIY, bekerjasama dengan Pemda DIY, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY tersebut juga menghadirkan pembicara Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Annas, dan Chief of Creative Experience Office (CXO)-CT Corp, Putri Tanjung.