Begini Program Kelas Olifant untuk Ajari Siswanya Kemandirian

Begini Program Kelas Olifant untuk Ajari Siswanya Kemandirian Tangkapan layar suasana presentasi start up company siswa OHS melalui virtual meeting. - Istimewa/Olifant School
09 Desember 2020 16:47 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Roadmap to Sociopreneur yang disusun Olifant School khususnya Olifant High School (OHS) dimaksudkan untuk mempersiapkan anak-anak agar memiliki dasar keterampilan sosial entrepreneur. Dengan begitu diharapkan di masa mendatang mereka memiliki cukup bekal untuk mengembangkan diri menghadapi tantangan global.

Baru-baru ini siswa dari Kelas VII-IX OHS atau SMP Olifant mempresentasikan model bisnis rintisan mereka di hadapan pembimbing kelas Sociopreneur dari dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan tim pengajar serta siswa-siswi dari Salisbury East High School Australia.

Sekitar 16 grup mempresentasikan model bisnis rintisan mereka di Jogja dan Australia secara virtual. Ke-16 model bisnis rintisan itu masing-masing adalah Plantliving.id, Claudyby, DS vs Covid, Black Label, Unipocket, Meliora, Wallet, White Rose, Mandana, Health & Body Co, Aloev Nucifera, Anzer, Aloha, Space Craft, Berry Cuddies, Naturalisasi Sanitizer.

“Dalam kegiatan ini masing-masing perusahaan rintisan mempresentasikan secara menyeluruh mulai dari visi misi perusahaan, filosofi nama dan logo, research market yang sudah dilakukan sebelumnya, jenis produk, target pasar, bujet, hingga proyeksi profit,” kata Head of Creative and Program Development, Mariana Hastuti, melalui siaran pers, Rabu (9/12/2020).

Hal paling penting yang perlu disertakan dalam konsep start up company ini adalah pemberdayaan serta respons atas isu lingkungan, dalam hal ini situasi pandemi atau hidup sehat. Pemberdayaan lingkungan ini diwujudkan dengan adanya keterlibatan masyarakat yang diseleksi sesuai visi misi masing-masing perusahaan untuk terlibat dalam proses produksi, misalnya sebagai supplier atau lainnya.

Berbagai keterampilan dipelajari para siswa, mulai dari mentoring soal cara mengenali dan menganalisa kebutuhan lingkungan, membuat proposal bisnis, membuat company profile, iklan, analisa pasar, dan berbagai teknis praktis lainnya yang dilakukan selama satu semester.

Dalam kegiatan presentasinya, siswa juga bisa bertanya jawab dengan para pembimbing, mentor dan beberapa panelis tamu. Berbagai masukan konstruktif diberikan para panelis untuk peningkatan efektifitas dari start up company tersebut.

“Meski masih tahap belajar, tetapi para siswa tetap bisa mengasah keterampilan dan kemampuan berpikir analitis, creative problem solving, kolaborasi, serta komunikasi dan pemberdayaan lingkungan.”