Pertamina Hulu Mahakam Tutup Tahun dengan Lampaui Target

Pertamina Hulu Mahakam Tutup Tahun dengan Lampaui TargetIlustrasi migas. - Bisnis Indonesia
29 Desember 2020 00:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), selaku operator di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, dengan dukungan SKK Migas dan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) selaku perusahaan induk, berhasil menutup 2020 yang penuh tantangan berat ini dengan kinerja produksi yang melebihi target dan berbagai catatan keberhasilan.

Dari sisi produksi, walaupun di tengah pandemi Covid-19, PHM tetap mampu memproduksi minyak dan gas di atas target. Produksi likuid (minyak dan kondensat) mencapai 29,4 kbpd dimana angka usulan WP&B: 28,4 kbpd (realisasi 24 Desember 2020), dan produksi gas  (wellhead) mencapai 605,5 mmscfd dimana angka usulan WP&B: 588 mmscfd (realisasi 24 Desember 2020).

Dalam hal keselamatan kerja, di penghujung 2020 ini PHM telah mencapai 923 hari, atau lebih dari 76 juta jam kerja manusia (man hours), tanpa kejadian yang menyebabkan kehilangan hari kerja atau tanpa LTI.

“Pada tahun ini kami juga memperoleh Penghargaan Keselamatan Migas Patra Nirbhaya Adinugraha satu dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Penghargaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja [SMK3] dari Kementerian Ketenagakerjaan. Kedua penghargaan ini merupakan pengakuan atas kinerja Keselamatan Kerja PHM,” ucap General Manager PHM, Agus Amperianto, melalui siaran pers, Senin (28/12/2020).

Terkait dengan aspek pengelolaan lingkungan, PHM meraih Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk kelima lapangan produksinya, yaitu Bekapai Senipah Peciko South Mahakam (BSP), South Processing Unit (SPU), North Processing Unit (NPU), Central Processing Area (CPA), dan Central Processing Unit (CPU).

“Selain itu, Lapangan Senipah Peciko South Mahakam [SPS] – Peciko Processing Area [PPA] menerima sertifikasi ISO 50001 untuk implementasi Sistem Manajemen Energi. Penerapan ISO 50001 ini merupakan pengakuan beyond compliance dari PERMEN ESDM 14/2012 yang mewajibkan penerapan manajemen energi untuk perusahaan yang menggunakan energi lebih dari 6.000 ton oil equivalent,” kata Agus.