Permintaan Telur Ayam Turun Sejak PPKM, Harga Anjlok

Permintaan Telur Ayam Turun Sejak PPKM, Harga AnjlokIlustrasi telur ayam. - Bisnis Indonesia/Nurul Hidayat
04 Februari 2021 07:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Harga komoditas telur anjlok sejak pertengahan Januari lalu. Salah satu penyebabnya karena turunnya permintaan pasar.

Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Sleman Nia Astuti mengatakan, penurunan harga telur dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan dari pasar. "Ini berdasarkan analisa kami, turunnya harga telur karena demand menurun," katanya, Rabu (3/2/2021).

Normalnya, rata-rata harga telur adalah Rp 24.000 per kilogram. Harga telur ayam sempat melonjak saat libur akhir tahun lalu yang perkilogram sempat menyentuh Rp28.000. Namun mulai pekan dua Januari, harga komoditas itu menjadi kisaran Rp 22.000 dan terus berangsur turun hingga kini berkisar Rp19.500 per kilogram.

Baca juga: 62 Warga Kadirojo 2 Segera Terima Ganti Kerugian Tol Jogja-Solo

Menurut Nia, permintaan telur turun itu diduga ada kaitannya dengan kebijakan Pengetatan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) yang berlangsung sejak 11 Januari 2021. Pemberlakuan PTKM, sedikit banyak membuat orang akhirnya menunda atau membatasi kegiatan hajatan.

Disamping itu, katanya, operasional hotel, katering, dan restoran bahkan warung makan juga menurun. Padahal, sektor kuliner selama ini menjadi pangsa tertinggi penyerapan telur. "Setelah aktivitas masyarakat berjalan normal, kemungkinan harga telur akan kembali normal," ujarnya.

Atiek Raflidanu peternak asal Kalasan mengakui jika penjualan telur di tempatnya sempat merosot hingga 50% akibat penerapan PTKM. Sejak tiga hari terakhir, katanya, permintaan telur mulai mengalami kenaikan. "Ya selain pasar lokal juga saya kirim ke Jakarta. Harga telur sedikit demi sedikit mulai naik tapi belum normal," ujarnya.

Baca juga: Wisata Candi Borobudur Ditutup Sementara

Ia menilai, walaupun harga telur turun namun peternak masih mendapat keuntungan. Kondisi berbeda justru dialami daging ayam yang nilai keuntungannya sangat sedikit. "Bahkan sering merugi. Kami berharap agar harga telur dan produk peternakan lainnya bisa stabil normal," harapnya.

Sudarmini, warga, Tamanmartani, Kalasan mengakui jika selama PTKM warga yang berkunjung ke angkringannya menurun drastis. Selain adanya pembatasan kegiatan masyarakat, penurunan pembeli juga disebabkan cuaca yang sering hujan. "Saya rasakan pendapatan turun 50 persen lebih. Siang sepi, jelang malam baru ada yang datang," katanya.