Cegah Inflasi di DIY Berlebihan, Ini Saran Bank Indonesia

Cegah Inflasi di DIY Berlebihan, Ini Saran Bank IndonesiaDigital ilustrasi / Freepik
16 Juli 2021 07:57 WIB Ujang Hasanudin Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kantor Bank Indonesia Perwakilan DIY mendorong konsumsi masyarakat secara daring untuk mengendalikan laju inflasi yang masih jauh dari target.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Miyono mengatakan DIY termasuk dalam kondisi relatif parah penyebaran virus Covid-19. Saat ini saat dunia secara umum sudah melakukan atau melalui pase kedua atau sudah menuju ke landai. Sementara Indonesia termasuk DIY justru tengah mengakami gelombang kedua yang cukup tinggi dan kapan berakhirnya belum diketahui.

BACA JUGA : Bank BPD DIY Luncurkan Inovasi dan Program Layanan

Dia berharap pandemi bisa berakhir melalui berbagai upaya yang dijalankan pemerintahan dan masyarakat. “Menjadi keprihatinan kita sehingga dengan kondisi Covid-19 ini berpengaruh pada kinerja perekonomian. Dan berpengaruh dua variabel, variabel pertumbuhan ekonomi yang terkendala dan vaiabel inflasinya,” kata Miyono, dalam jumpa pers yang digelar secara virtual, Senin (12/7/2021)

Saat ini tingkat penyebaran Covid-19 cukup tinggi atau hanya kalah dari Jakarta dan dengan Banten imbang. Kondisi ini menjadi keprihatinan tingkat kompleksitas DIY cukup besar. PPKM Darurat seperti PSBB dengan danya mobilitas akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan inflasi. PDRB terkait pertumbuhan ekonomi buat proyeksi berbagai sekenario.

“Kalau PDRB ini kecendrungan secara umum mengalami penurunan semoga turun tidak dalam PPKM Darurat sampai 2020 kalau dipaerpanjang akan berdampak lebih dalam lagi PDRB,” ujar Miyono.

BACA JUGA : Prawirotaman Jadi Pasar Digital Pertama di DIY

Lebih lanjut Miyono memaparkan inflasi DIY Triwulan II 2021 mencapai 1,50 persen (yoy), lebih rendah dibanding inflasi dua tahun terakhir. Secara tahun kalender, inflasi DIY baru mencapai 0,87 persen (ytd). Rendahnya inflasi DIY dipengaruhi oleh deflasi kelompok Volatile Food atau pangan yang mencapai -1,07 persen, sedangkan administered price cenderung naik mencapai 1,55 persen dan inflasi inti alami penurunan 2,00 persen pada kuartal II 2021.

“Rendahnya ini, pertama karena dari daya beli dan pendapatan menurun, daya beli rendah, mobilitas masyarakat tak bisa aktivitas dengan baik. Kondisinya secara data cukup memprihatinkan. Mudah mudahan PPKM selesai dan Covid-19 mulai tertangani melandai sehingga aktivitas masyarakat gerak kembali,” katanya.

Saat ini pariwisata tutup, pendidikan demikian akan berat bagi DIY mendorong konsumsi.Tingkat paling prihatin sekarang inflasi pangan, infasi inti alami penurunan.Paling parah  saat ini adalah deflasi artinya negatif mengalami penurunan pertumbuhannya. Hasil sektor pertanian cukup baik misalnya padi, cabai dan semacamnya sementara harga beras keterdsediaan baik.

Sementara demand atau permintaan mengalami penurunan sehingga over suplai atau over stok. Oleh karenanya mengalami penurunan. Kondisi ini membutuhkan upaya bagaimana bantu petani agar dia menutup biaya peroduksi.

BACA JUGA : Bayar Andong di Malioboro Kini Lewat Digital

“Bisalah kita membeli ramai-ramai pada petani produk bawang dan cabenya seperti itu. Kami di DIY dorong pegawai beli produk petani, pegawai kita tawarkan dan untuk cabe juga demikian bagaimana bantu mereka agar harganya paling tidak mereka tidak rugi. Kelangsungan konsumsi bisa ditahan dengan baik,” ucap Miyono

Dia juga mendorong masyarakat meningkatkan konsumsis melalui transaksi digital. “Kita dai BI menyarankan belanja secara digital dan sekarang sudah model nanti barang sampai di tempat sendiri,” kata Miyono.

Dia berharap di tengah PPKM Darurat semoga bisa menjaga kelancaran distribusi barang dan jasa. Karena kalau sampai terhambat menimbulkan inflasi berlebihan tapi juga jangan sampai terjadi deflasi.