Di Tangan Diana, Jamu Menjadi Minuman Ringan Sehari-hari

Di Tangan Diana, Jamu Menjadi Minuman Ringan Sehari-hariErwin Dianawati menunjukkan jamu serbuk "Racik Sewu" hasil produksinya. - Harian Jogja/Nina Atmasari
26 Agustus 2021 07:27 WIB Nina Atmasari Ekbis Share :

Harianjogja.com, MAGELANG- Berawal dari keprihatinan terhadap perilaku tidak baik sejumlah penjual jamu gendong, Erwin Dianawati tergerak hatinya untuk membuat jamu yang asli dan sehat. Usahanya membuahkan hasil, kini usaha jamu kemasan yang dirintisnya berkembang menjadi salah satu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Magelang.

Diana, demikian panggilan akrabnya, dahulu adalah penjual empon-empon di Pasar Muntilan, Kabupaten Magelang. Pelanggannya adalah para pembuat dan penjual jamu gendong. “Dari obrolan dengan mereka, ada beberapa pembuat jamu yang mencampurkan bahan tambahan seperti pemanis dan pewarna buatan. Dari situ saya prihatin, jamu itu seharusnya menjadi minuman yang menyehatkan,” katanya, ditemui di rumahnya, Ngadiretno, Gang Jambu, Tamanagung, Muntilan, Rabu (25/8/2021).

Dari obrolan juga, ia jadi tahu tentang bahan dan cara meracik jamu. Tahun 2019, ia pun mencoba membuat jamu seperti yang biasa dijual oleh penjual jamu gendong. Jamu pertama yang dibuatnya adalah beras kencur. Ia menggunakan bahan yang benar-benar asli. Jamu itu kemudian dikemas dalam botol berukuran 250 ml dan dijualnya ke kantor-kantor.

Baca juga: 5 Destinasi Wisata Ini Jadi Tempat Favorit Crazy Rich Dunia

Ternyata peminatnya tinggi. Di awal saja, ia langsung bisa menjual hingga 50 botol. Guna memberikan identitas dan menekankan kualitas, perempuan berusia 40 tahun ini mencantumkan merek jamunya “Racik Sewu”. “Permintaan terus bertambah. Lalu ada yang pesan untuk di bawa pulang. Namun, jamu cair hanya bisa tahan 18 jam. Saya pun berinovasi membuat jamu serbuk agar bisa diseduh sendiri oleh pembeli,” tutur Diana.

Jamu serbuk juga tinggi peminatnya. Kini, Diana bahkan lebih banyak membuat jamu serbuk. Ada empat macam yang dibuatnya, yakni jahe jeruk nipis, kunyit jeruk nipis, jahe kencur dan jahe merah aren. Dalam sebulan ia bisa memproduksi hingga 2.000 bungkus jamu serbuk kemasan 100 gram. Harga jamu per bungkus Rp17.000.

Penjualan jamu kemasan ini dilakukan lewat online maupun berdasarkan pesanan. Sebagian ada yang dititipkan di toko oleh-oleh di Muntilan. Diana dibantu sang suami, Purhadi Ismawanto, 40, untuk mengatarkan pesanan jamu-jamunya. Dari promosi online yang dilakukannya , Diana bahkan mendapatkan pesanan untuk memasok jamu serbuk rutin ke rumah makan di Jakarta.

Baca juga: Studi : Kolesterol Ternyata dapat Tingkatkan Risiko Sel Kanker Menyebar

“Yang rutin sekarang membuat jamu serbuk. Kalau longgar waktunya, baru membuat jamu cair, itu pun hanya berdasarkan pesanan,” katanya.

Untuk jamu cair, variannya lebih banyak dan harganya berbeda-beda dengan kemasan yang sama yakni 250 ml. Jamu beras kencur dijual Rp7.000, kunir asem Rp7.000, gula asem Rp7.000, jahe jeruk nipis Rp8.000, kunyit jeruk nipis Rp8.000. Ada pula kemasan satu liter yang dijual Rp22.000.

Diana yang memiliki empat anak ini menuturkan dirinya membuat jamu kemasan botol seperti minuman ringan selain untuk mencari penghasilan, juga untuk memberikan minuman yang menyehatkan terutama untuk anak-anak. “Anak-anak kan suka minuman ringan kemasan, apalagi yang berwarna-warni. Nah ini jamu juga berwarna warni dan nilai lebihnya adalah menyehatkan. Saya ingin mengenalkan lebih luas jamu sebagai minuman ringan sehari-hari,” katanya. (ADV)