Pengembangan Produk Jadi Solusi IKM di Masa Pandemi

Pengembangan Produk Jadi Solusi IKM di Masa PandemiSeminar Peningkatan Kualitas Pengelolaan Usaha Pelaku Industri Kecil Menengah DIY bertema Pengembangan Produk oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Jumat (10/9/2021). - ISt/tangkapan layar
11 September 2021 06:17 WIB Sirojul Khafid Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Pengembangan produk setiap dekade memiliki cara dan strategi yang berbeda. Pertimbangan perubahan teknologi dan lainnya membuat cara lama tidak bisa bertahan lagi.

Hal ini disampaikan oleh dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, John Suprihanto dalam serial seminar Peningkatan Kualitas Pengelolaan Usaha Pelaku Industri Kecil Menengah DIY bertema Pengembangan Produk oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY.

Pandemi Covid-19 dan era digital juga sedikit banyak mengubah dinamika pasar. Banyak penurunan penjualan dalam beberapa sektor. Namun tatap saja ada yang bisa bertahan bahkan meningkat produksinya. Sebagai contoh industri batik, salah satu produk khas DIY. Banyak yang gulung tikar selama pandemi ini. Sementara untuk contoh layanan beberapa waktu lalu bisa merujuk pada taksi konvensional. Apabila dahulu seakan memiliki kekuatan yang besar, datangnya transportasi online membuat perputaran ekonomi mereka berubah.

Baca juga: Ganjar Minta Karimunjawa Dibuka Terbatas

Agar lebih dinamis dengan perkembangan lingkungan, maka pengembangan produk perlu menjadi perhatian. “Salah satu caranya bisa dengan strategi KIAT, yang merupakan singkatan Kreatif, Inovatif, Adaptif, dan Tanggap," kata Suprihanto, Jumat (10/9/2021).

Namun selain Tanggap pada huruf T, adapula usaha lain seperti Terampil, Trengginas, dan T lainnya. Apabila merasa perlu untuk mengubah produk, maka hal itu bisa dicoba. Walaupun pengembangan produk tidak selalu berarti menciptakan produk secara total berbeda dari sebelumnya.

“Pengembangan produk jangan membayangkan harus prouduk 100 persen baru bagi dunia, bagi pasar, atau bagi perusahaan. Pengembangan produk boleh dengan cara menekan biaya. Produk sama persis cuma ditekan biaya agar lebih efisien,” kata Suprihanto.

“Bisa juga dengan modifikasi, misalnya bungkus atau isi diubah sedikit, itu sudah baru. Jangan membayangkan yang ekstrim harus baru sama sekali, boleh dimodifikasi.”

Baca juga: Ilmuwan Temukan ‘Antibodi Super’ terhadap Covid-19

Pengembangan produk ini pula yang coba dilakukan Owner CV. Tashinda Putra Prima, Johny Zahlan. Pengembangan produk bisa mengacu pada respons dari pelanggan. Hal ini agar bisa selaras dengan upaya memberi kepuasan atas keinginan atau kebutuhan mereka.

Pengembangan produk juga bisa mengacu pada tahap-tahap seperti market research, concept development, prototyping, design and development, serta deploy. “Analisi market bisa berdasarkan kebutuhan pasar, seperti dari pelanggan. Namun bisa juga dari kompetitor,” kata Zahlan.

Setelah mendapat data dari analisis market, bisa ke tahap berikutnya terkait rencana pengembangan. Setelah itu membuat contoh produk serta desainnya. Apabila semua sudah siap, maka langkah terakhir adalah distribusi.

Pada tahap pengembangan produk, ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Bisa dengan bahan baku berbeda namun prosesnya sama. Sebagai contoh bakpia dengan berbagai rasa. Bakpia yang dahulu hanya rasa kacang hijau, bisa bertambah dengan varian rasa lain.

Hal ini pula yang seringkali perusahaan Zahlan lakukan dalam memproduksi barang kerajinan. Ada beberapa jenis bahan baku kerajinan, namun ada ciri khas bahan baku yang terbuat dari alam. “Biasanya saya ada satu konsep yang tidak akan melenceng jauh daripada bahan bakunya,” kata Zahlan.

Cara lain bisa dengan bahan baku dan proses yang berbeda, sehingga menghasikan barang baru. Ada juga cara kombinasi untuk mengembangkan suatu produk.

Semua pemaparan narasumber bisa dilakukan agar produk dari IKM di DIY semakin meningkat penjualannya, selaras dengan tujuan dari acara seminar ini. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Aris Riyatna, seminar ini sebagai respon akan dampak pandemi. Agar tetap bertahan, perlu adanya pengubahan pola pikir para pelaku IKM.

Meski secara kinerja sektor industri turun, sumbangsih IKM masih berada di posisi atas dalam kontribusi pada PDRB DIY. Angkanya mencapai 12,83 persen. Selain itu, IKM juga bisa menjaring sekitar 355.000 pegawai.

Acara ini akan berlangsung sebanyak 12 kali dengan 12 tema, dari Juli sampai Desember dan penyelanggaraan ini merupakan yang kelima. “Kami pahami bersama, produk IKM dalam masa pandemi harus lebih berkreasi, bahkan juga harus menggunakan teknologi informasi dalam pemasaran maupun pembuatan produk yang baru. Semoga seminar ini bermanfaat bagi kita semua dan memperkaya pengetahuan serta memberikan nilai yang lebih.”