Menteri Airlangga Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Tergolong Sangat Baik

Menteri Airlangga Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Tergolong Sangat BaikMenteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. - Harian Jogja - Ist
02 Januari 2022 11:37 WIB Galih Eko Kurniawan Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Kebijakan-kebijakan Pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional diyakini telah berada pada jalur yang benar.

Hal ini terlihat pada beberapa indikator perekonomian yang membaik seiring dengan melandainya kasus Covid-19 di Indonesia. Penanganan krisis kali ini juga lebih baik dari pada penanganan krisis sebelumnya pada 1997-1998 dan 2008.

Dari upaya akselerasi pelaksanaan vaksinasi, sampai 31 Desember 2021 pukul 18.00 WIB tercatat dari 208,26 juta target vaksinasi dosis 1 dan dosis 2, telah dilakukan vaksinasi dosis 1 kepada 161,32 juta penduduk atau sebesar 77,46% dari target, vaksinasi dosis 2 kepada 113,85 juta penduduk atau sebesar 54,67% dari target.

Sementara itu, untuk vaksinasi dosis 3 telah diberikan kepada 1,29 juta penduduk atau sebesar 87,75% dari target. Upaya vaksinasi juga telah diperluas dan diakselerasi bagi kelompok anak-anak usia enam sampai 11 tahun.

Dari sisi pemulihan ekonomi, Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia sudah berada di atas 100 yakni pada angka 118,5. Ekspor Indonesia pada kuartal ke-3 tahun 2021 naik 29,16%, sedangkan impor naik 30,11%. Indonesia juga memiliki cadangan devisa yang cukup tinggi yaitu di atas 140 miliar USD dan neraca perdagangan secara akumulatif surplus sebesar 34,32 miliar USD.

“Penanganan krisis akibat Covid-19 dalam 1 tahun sudah bisa pemulihan sehingga ini memberikan sinyal fundamental ekonomi masih sangat baik,” tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam rilis kepada Harian Jogja, Minggu (2/1/2022).

Indeks Saham
Hal tersebut juga diakui oleh Bank Dunia yang menilai saat ini Indonesia memiliki Kebijakan Fiskal yang prudent dan juga memiliki Kebijakan Moneter yang tepat, termasuk reformasi struktural yang dilakukan secara masif sehingga dapat menarik investor.

Menko Airlangga mengatakan kembalinya indeks saham menjadi suatu hal yang sangat positif, apalagi sebagian besar nasabahnya adalah sektor retail atau individual. Alhasil, pasca Covid-19 ini pasar modal secara struktur lebih kuat. Kemudian ditambah punya Sovereign Wealth Fund yang diberi modal oleh Pemerintah, dan ini yang menjadi buffer bagi capital market ke depan.

Terkait dengan investasi, beberapa hal yang dilakukan Pemerintah dalam Proyek Strategis Nasional telah mendorong masuknya investasi lebih dari 5.000 triliun rupiah. Sementara itu dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus terutama di sektor yang pertumbuhannya tinggi selama pandemi, seperti Nongsa Digital Park, termasuk juga di sektor renewable energy, seperti solar farm, juga banyak diminati oleh investor.

Terkait dengan kebijakan The Fed, Menko Airlangga menegaskan Indonesia masih memiliki buffer untuk menahan karena selama ini tingkat suku bunga di Indonesia relatif delta-nya tinggi. “Jadi kita harus tetap berbasis pada fundamental yang sifatnya regional sentimen,” kata Menko Airlangga.

Sementara itu, adanya Forum G20 di Indonesia diharapkan akan efektif memacu tenaga kerja hingga konsumsi. Menko Airlangga mengatakan forum ini akan memberikan multiplier effect yang besar bagi Indonesia dan mempekerjakan sekitar 33.000 pekerja di sektor Horeka dan event untuk kegiatan tersebut.