BGN Kaji Sanksi SPPG Kulonprogo Usai Kasus Keracunan
BGN mengkaji sanksi SPPG di Kulonprogo setelah kasus keracunan. Dari 424 SPPG di DIY, baru 415 yang memiliki SLHS.
Ilustrasi perumahan subdisi di kawasan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat./JIBI-Bisnis Indonesia
Harianjogja.com, JOGJA—Mulai bulan ini, pemerintah telah menaikkan harga rumah subsidi. Untuk di DIY, harga rumah bersubsidi naik menjadi kisaran Rp162 juta per unit dari sebelumnya Rp150,5 juta. Lalu apakah pekerja dengan gaji UMR masih bisa beli rumah?
Ketua DPD REI DIY, Ilham Muhammad Nur mengatakan dari sisi kemampuan masyarakat, tentu sudah dihitung oleh pemerintah. Misalnya masyarakat dengan pendapatan setara Upah Miminum Regional (UMR). "Ini tetap bisa, sudah dihitung. Hanya saja mungkin tenornya diperpanjang. Kalau enggak salah, saat ini 15 tahun, [jadi berapa tahun nantinya] itu bank yang bisa menghitung," ucapnya, Rabu (12/7/2023).
Dia menjelaskan, hitung-hitungan kredit adalah 40%-50% dari pendapatan. Jika pendapatan UMR Rp2,1 juta maka sekitar Rp1 juta bisa digunakan untuk mencicil.
BACA JUGA: Tanah di Jogja Terlalu Mahal, REI DIY Berharap Harga Rumah Subsidi Naik Lebih Tinggi Lagi
Itulah sebabnya, meski terjadi kenaikan harga, menurut dia sebenarnya tidak begitu berdampak pada penurunan daya beli secara signifikan, sepanjang skemanya mengikuti yang telah diatur oleh pemerintah.
"Kan ada namanya bantuan subsidi uang muka masih disediakan Kemenkeu [Kementerian Keuangan] saya lupa. Dulu nilainya Rp4 juta. Katakanlah Rp4 juta dengan uang muka Rp5 juta masyarakat cukup mengeluarkan Rp1 juta mendapatkan rumah dengan angsuran kurang lebih Rp1 juta," kata Ilham.
Dia menjelaskan sampai semester I/2023 penjualan rumah subsidi anggota REI DIY adalah sekitar 50-75 unit. Setiap tahun penjualan ditargetkan bisa mencapai 200 unit.
Untuk saat ini, kata dia, penjualan rumah subsidi di DIY paling banyak di Gunungkidul dengan persentase di atas 50%. "Siapa tahu di semester 2 lebih banyak, biasanya lebih banyak hampir tercapai. [kenaikan ini] di sisi produsen ya jadi lebih menggembirakan ya. Saya lihat kenaikan ini mengikuti inflasi selama kurang lebih empat tahun terakumulasi dari Rp150,5 juta menjadi Rp162 juta," ujar dia.
Sebelumnya, Sekretaris DPD REI DIY, Ngatijan Suryo Sutiarso mensyukuri kenaikan harga rumah subsidi tahun ini di kisaran 7%-8% dari harga semula. "Di DIY, pada 2022 lalu harga rumah bersubsidi Rp150,5 juta kini naik jadi Rp162 juta. Sebenarnya kenaikan harga rumah di DIY ini sangat ditunggu-tunggu pengembang rumah subsidi," ucapnya.
Hanya saja, khusus di DIY, kata Ngatijan, memang masih cukup sulit untuk merealisasikan perumahan subsidi. Kendala yang dihadapi adalah tingginya harga tanah.
Dia mengatakan harga tanah yang layak untuk rumah subsidi kurang dari Rp200.000 per meter persegi. "Paling bisa direalisasikan di Kulonprogo, Gunungkidul, dan Bantul Selatan. Selain harga tanah, sekarang juga tingginya harga material dan tenaga yang mendorong harga rumah subsidi perlu dinaikan," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BGN mengkaji sanksi SPPG di Kulonprogo setelah kasus keracunan. Dari 424 SPPG di DIY, baru 415 yang memiliki SLHS.
Simak tips sehat bagi lansia agar tetap bugar, mandiri, dan terhindar dari risiko cedera melalui aktivitas fisik, nutrisi, dan pemeriksaan rutin.
Hari Kanker Paru Sedunia, AstraZeneca mendorong penguatan navigasi pasien untuk mempercepat diagnosis, rujukan, dan pengobatan kanker paru.
Pieter Huistra menyebut progres PSS Sleman mencapai 70-75%. Fisik pemain 80%, sedangkan taktik 70-75% jelang Super League.
Vin Diesel mengungkap Fast Forever mulai syuting Desember 2026. Film utama ke-11 Fast & Furious ini dijadwalkan tayang Maret 2028.
Inklusi keuangan DIY mencapai 98,74 persen, peringkat kedua nasional. OJK masih fokus meningkatkan literasi keuangan masyarakat.