Kelok 23 Bantul-Gunungkidul Ditutup Lagi Mulai 20 September, Ini Alasannya
Kelok 23 Bantul-Gunungkidul ditutup lagi 20 September 2026 setelah uji coba sepekan untuk evaluasi lalu lintas dan kondisi pembangunan.
Tanaman musim kemarau - Ilustrasi StockCake
Harianjogja.com, JOGJA—Musim kemarau akan segera tiba. Sektor pertanian akan mengubah sistem tanam dengan tanaman yang cocok seusai musim.
Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian UMY, Oki Wijaya mengatakan tanaman palawija dan tembakau adalah pilihan yang paling cocok untuk ditanam selama musim kemarau. Tujuannya untuk memastikan lahan pertanian tetap produktif meski di tengah ancaman kekeringan.
Dia menjelaskan palawija mencakup tanaman seperti jagung, kacang-kacangan, dan umbi-umbian. Lebih kuat beradaptasi terhadap kekurangan air.
Menurutnya tanaman ini punya sistem perakaran yang lebih dalam dan efisien dalam mengambil air dari tanah. "Selain itu siklus pertumbuhannya juga lebih pendek," ucapnya, Selasa (3/9/2024).
Sementara untuk tembakau merupakan tanaman yang relatif tahan terhadap kekeringan. Meskipun membutuhkan air dalam fase pertumbuhan awal, tembakau dapat bertahan dengan baik dalam kondisi air yang terbatas setelah fase tersebut.
Kemampuan tembakau untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kering disebabkan oleh karakteristik fisiologisnya, seperti struktur daun yang mampu mengurangi kehilangan air melalui transpirasi.
Lebih lanjut Oki menjelaskan, palawija dan tembakau berbeda dengan tanaman padi yang sangat bergantung pada air. Akan ditanam pada bulan Oktober, ketika curah hujan diharapkan mulai meningkat. Dia menyebut penjadwalan tanam padi di musim hujan ini merupakan strategi yang umum dilakukan.
"Untuk memanfaatkan curah hujan yang cukup guna memenuhi kebutuhan air yang tinggi selama fase pertumbuhan padi," jelasnya.
BACA JUGA: Sempat Ada Suspek JE di Kota Jogja, Dinkes Gencarkan Vaksinasi
Memilih tanaman yang cocok di musim kemarau menurutnya menunjukkan perencanaan yang cermat dari Dinas Pertanian untuk mengoptimalkan kondisi lingkungan yang ada demi keberhasilan panen padi. Sembari memanfaatkan lahan untuk tanaman yang lebih adaptif terhadap kekeringan selama musim kemarau.
Sebelumnya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY menyebut saat ini tidak ada kekeringan tanaman padi di DIY. Sebab lahannya ditanami tanaman palawija, sayuran, hingga tembakau.
Plt Kepala DPKP DIY, R. Hery Sulistio Hermawan mengatakan lahan yang ditanami padi saat ini hanya lahan-lahan yang beririgasi teknis. Seperti di Kabupaten Sleman dan Bantul, yang sudah ditanami sejak Juli 2024 lalu. "Saat ini tidak ada kekeringan [lahan] padi," ucapnya.
Ia menjelaskan untuk lahan tadah hujan seperti di Kabupaten Gunungkidul, diperkirakan baru akan ditanami padi pada Oktober 2024 mendatang, setelah terjadi musim hujan.
Sehingga panen padi diperkirakan akan terjadi di awal tahun depan. "Untuk yang lahan tadah hujan panen sekitar Januari-Februari," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 Bantul-Gunungkidul ditutup lagi 20 September 2026 setelah uji coba sepekan untuk evaluasi lalu lintas dan kondisi pembangunan.
Pembangunan rusun ASN Sleman belum terealisasi akibat kendala pengadaan tanah. Pemkab Sleman kaji opsi penggunaan tanah kas desa (TKD).
PB PDGI menyebut 95% masyarakat Indonesia rutin sikat gigi, namun kurang dari 3% yang melakukannya di waktu tepat: setelah sarapan dan sebelum tidur.
Ahmad Sahroni mendesak Korlantas Polri evaluasi ujian SIM dan usut sindikat SIM palsu usai Polres Siak menangkap delapan tersangka.
Ketum Golkar Bahlil Lahadalia sebut kasus korupsi Fahd El Fouz sebagai musibah. Doli Kurnia sebut perbuatan Fahd jadi bahan evaluasi kaderisasi.
Balai Diklat Keuangan (BDK) Yogyakarta menyiapkan berbagai program pembelajaran dan pengembangan kompetensi yang menyasar aparatur pemerintah