Advertisement
Masuk Tiga Besar Komoditas Ekspor, Ini Bentuk Kerajinan Kertas dari DIY
Tulakir (kiri) saat melakukan kegiatan pewarnaan terhadap kerajinan tangan yang dibuatnya di rumahnya yang berada di Bokoharjo, Prambanan, Sleman, Kamis (2/4/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Kertas/karton masuk dalam tiga besar komoditas ekspor dari DIY pada Agustus 2024 dengan nilai 6,84 juta dolar AS dengan andil 14,65%. Naik dari Juli 2024 yang berada di peringkat lima komoditas ekspor dengan nilai 3,25 juta dolar dengan andil 6,78%.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY menyebut ekspor kertas yang dimaksud bukan dalam bentuk kertas seperti kertas HVS, namun dalam bentuk kerajinan. Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag DIY, Theresia Sumartini mengatakan beberapa kerajinan kertas dari DIY seperti sampul kertas kado, tas kertas, box kertas, dan lainnya.
BACA JUGA: Kran Ekspor Kratom Semakin Terbuka
Menurutnya ada juga perusahaan yang membuat barang-barang dari kertas, seperti untuk topi yang biasa dipakai di tempat makan cepat saji, hingga apron kertas. Ia menduga peningkatan ini karena permintaan sedang melonjak.
"Jadi kerajinan kertas ya, bukan ekspor kertas gitu. Terus ada juga perusahaan yang membuat bahan-bahan dari kertas," ucapnya, Senin (7/10/2024).
Ia menyebut peningkatan ini bukan siklus tahunan, namun karena memang kebetulan sedang meningkat. Theresia mengatakan terkait ekspor DIY memang konsen pada kerajinan-kerajinan.
Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi geopolitik global sangat berdampak pada ekspor DIY. Ongkos kirim menjadi lebih mahal, sehingga pembeli akan berpikir dua kali.
Dia menjelaskan kontainer untuk pengiriman ekspor tersedia, akan tetapi jika ekspor ke Eropa harus berjalan memutar. "Lewat Terusan Suez Laut Merah nah sekarang udah gak bisa harus muter, harganya jadi lebih mahal," jelasnya.
Sementara untuk harga produk dari DIY sendiri tidak mengalami lonjakan. Produk jadi lebih mahal karena biaya pengiriman.
Sebelumnya, Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati mengatakan negara pangsa ekspor DIY pada Agustus 2024 pertama adalah AS nilainya 21,09 juta dolar AS dengan andil 45,12%, Australia nilainya 4,36 juta dolar AS andil 9,33%, Jerman nilainya 3,33 juta dolar AS andil 7,12%. Disusul Jepang dan lainnya dengan nilai di bawah 3 juta dolar AS dan andil di bawah 6%.
Kemudian komoditas ekspor DIY berdasarkan golongan barang tertinggi adalah pakaian jadi bukan rajutan nilainya 15,16 juta dolar AS dengan andil 32,46%, kertas/karton nilainya 6,84 juta dolar AS andil 14,65%. Lalu perabot penerangan rumah nilainya 5,17 juta dolar AS dengan andil 11,07%.
"Untuk golongan yang lain seperti barang-barang rajutan dan lainnya nilainya di bawah 6 juta dolar AS, andil di bawah 12%," jelasnya.
Advertisement
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pertamina Sebut Amankan Pasokan Energi Sebelum Gejolak Timur Tengah
- Tiket Lebaran Masih Tersedia, 41.067 Penumpang Padati Daop 6 Jogja
- Konflik AS-Iran Ancam Harga Minyak, Tekan Fiskal Indonesia
- Anggaran MBG Tembus Rp19 Triliun per Bulan, Ini Datanya
- Pertamina Antisipasi Gangguan Pasokan Energi dari Selat Hormuz
Advertisement
Penumpang Bandara YIA Tembus 15 Ribu per Hari Jelang Lebaran
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Pertamina Tambah 9 Juta Tabung Elpiji 3 Kg Jateng-DIY Jelang Lebaran
- Harga Emas Hari Ini Senin 16 Maret 2026: UBS dan Galeri24 Stabil
- Bahlil Percepat Proyek Blok Masela Rp339 Triliun, Segera Tender EPC
- Harga Emas Antam Hari Ini Senin 16 Maret 2026 Turun Rp5.000 Per Gram
- Mendag Pastikan Stok Pangan Aman dan Harga Stabil Jelang Lebaran 2026
- Tiket Lebaran Masih Tersedia, 41.067 Penumpang Padati Daop 6 Jogja
- Pertamina Sebut Amankan Pasokan Energi Sebelum Gejolak Timur Tengah
Advertisement
Advertisement








