Advertisement
Curah Hujan Tinggi, Pasokan Cabai Mulai Tertekan, Kemendag Siaga
Foto ilustrasi penjual cabai keriting. / Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengingatkan potensi lonjakan harga aneka cabai menjelang periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Cuaca hujan yang berlangsung sejak awal November menjadi faktor utama yang dikhawatirkan memengaruhi pasokan.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan komoditas cabai selalu menjadi perhatian khusus setiap akhir tahun. Momentum Nataru juga kerap beriringan dengan curah hujan tinggi yang mengganggu produksi.
Advertisement
“Biasanya kan kalau Nataru yang perlu diantisipasi adalah cabai. Kami sudah koordinasi terus. Cabai itu biasanya kalau akhir tahun sama awal tahun. Tapi ini karena cuaca, hujan terus. Jadi sebenarnya bukan karena mau Nataru,” kata Budi di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Kemendag, kata Budi, terus berkoordinasi dengan lintas kementerian/lembaga serta Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) untuk memastikan pasokan tetap aman.
BACA JUGA
“Kami koordinasi terus dengan asosiasi petani, jangan sampai pasokan terganggu. Biasanya setiap akhir tahun kami komunikasi. Kementan juga, Bapanas,” ujarnya.
Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) per Sabtu (22/11/2025) pukul 12.00 WIB, harga cabai rawit merah nasional berada di posisi Rp42.947/kg, masih dalam rentang harga acuan penjualan (HAP) Rp40.000–Rp57.000/kg. Cabai merah keriting tercatat Rp53.196/kg, sementara cabai merah besar Rp53.396/kg.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan pasokan cabai tertekan tingginya curah hujan di sejumlah sentra produksi, memicu kenaikan harga di tingkat petani dan konsumen. Meski demikian, rata-rata harga cabai merah nasional pada pekan kedua November tercatat turun 4,04% dibandingkan Oktober menjadi Rp52.979/kg.
“Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga cabai merah dari 136 minggu lalu, kini 164 kabupaten/kota. Bahkan di Kabupaten Nduga harga mencapai Rp200.000 per kilogram,” kata Amalia dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah 2025, Senin (17/11/2025).
Sejumlah daerah sentra juga mengalami hambatan produksi hingga kasus gagal panen, yang menekan distribusi ke wilayah nonsentra. Dampaknya, index perubahan harga (IPH) meningkat signifikan.
Kabupaten Tambrauw mencatat harga cabai merah rata-rata Rp99.500/kg pada pekan kedua November, dengan kenaikan IPH 86,33% atau 80,91% di atas batas HAP. Adapun Kabupaten Boven Digoel berada di level Rp98.750/kg, atau 79,55% di atas batas atas HAP dengan kenaikan IPH 30,48%.
Menurut Amalia, yang paling dirasakan konsumen adalah tingginya harga akhir yang harus dibayar di pasar. “Ketika harga sudah tinggi, itulah yang dirasakan konsumen sehingga mereka menilai harga cabai mahal,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Jadwal Pemeliharaan Listrik di Sleman dan Jogja 5 Maret 2026
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Galeri24 dan UBS Kompak Melemah Hari Ini
- Emas Antam Anjlok, Cek Rincian Harga Terbaru
- Perang Timur Tengah Belum Ganggu Ekspor DIY, Disperindag Tetap Waspada
- Dolar AS Perkasa, Rupiah Melemah ke Level Rp16.930 Imbas Geopolitik
- Lantik Direktur Baru, LPS Pastikan Keamanan Dana Masyarakat Terjaga
- Perang Iran-Israel Memanas, Begini Nasib Pariwisata di Jogja
- Harga Ayam Ras Melonjak, Mentan Bongkar Ulah Distributor Nakal
Advertisement
Advertisement





