Advertisement
GIPI DIY: Nataru Ramai, Lama Tinggal Wisatawan Masih Jadi PR
Ilustrasi Hotel/ Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY menyampaikan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 secara traffic sudah bagus, keberadaan tol memudahkan akses keluar masuk DIY.
Ketua GIPI DIY, Bobby Ardiyanto Setyo Aji mengatakan traffic yang bagus ini belum diimbangi dengan value product pariwisata DIY yang kuat, agar bisa menahan wisatawan tinggal lebih lama di 5 kabupaten/kota. Selain itu, menurutnya kebanyakan wisatawan masih menginap di Kota Jogja dan Kabupaten Sleman.
Ia juga menyebut okupansi hotel belum sampai penuh, masih di kisaran 70%-80% saja. Bobby menduga hal ini terjadi karena masih banyak akomodasi seperti villa hingga homestay ilegal yang tidak tercatat dan terdeteksi secara perizinan.
"Kalau secara traffic lebih banyak dibanding tahun lalu, namun secara ekonomi kami sedang menunggu data Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), dan Dinas Pariwisata DIY," ucapnya, Sabtu (3/1/2026).
Menurutnya faktor pendorong tingginya traffic wisatawan di momen Nataru tahun ini adalah libur yang cukup panjang, perekonomian yang mulai stabil, kemudahan akses tol, dan adanya destinasi-destinasi wisata baru yang cukup menarik. Dia mengatakan secara bujet, liburan di DIY juga lebih terjangkau.
Lebih lanjut dia mengatakan, belanja wisatawan untuk untuk destinasi, kuliner dan makan minum, hingga UMKM sudah sesuai dengan harapan. Namun Bobby menduga akomodasi dan transportasi lokal belum sesuai harapan.
"Dikarenakan akomodasi sekitar Jogja, homestay, serta kos exclusive harian yang mungkin membuat kompetisi semakin ketat, serta sebagian besar wisatawan menggunakan transportasi pribadi," jelasnya.
Ia menyarankan agar kegiatan pariwisata semakin maksimal, yang perlu diperbaiki adalah kualitas produk dan layanan, agar bisa menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan.
"Mampu memberikan experience based dan mampu menahan wisatawan untuk stay lebih lama di Jogja," lanjutnya.
Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan tingkat okupansi hotel di DIY belum merata, kepadatan wisatawan masih terpusat di kawasan Malioboro dan sekitarnya. Menurutnya okupansi yang bisa mencapai 90% hanya di hotel di sekitar Malioboro atau wilayah tengah kota.
Sementara untuk wilayah di luar pusat kota, ia menyebut tingkat okupansi berkisar 60%–80%, itu pun dengan tren yang tidak konsisten. Deddy mencatat adanya fluktuasi tajam pada periode tertentu.
"Pada 30 Desember kemarin justru terjadi penurunan cukup signifikan, rata-rata hanya sekitar 40%," ucapnya.
Deddy menyayangkan menjamurnya penginapan non-hotel seperti homestay, villa, hingga kos harian yang mudah diakses secara daring, sehingga menekan okupansi hotel resmi sekitar 10%-15% dari pasar yang seharusnya menjadi target hotel.
"Kalau ini dibiarkan, ini menjadi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi kota dan kabupaten. Dalam jangka panjang bisa berdampak negatif bagi destinasi," kata Deddy.
Advertisement
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Bupati Abdul Halim Muslih Serahkan Paket Bantuan Sosial PPBMP
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Galeri24 dan UBS Kompak Melemah Hari Ini
- Emas Antam Anjlok, Cek Rincian Harga Terbaru
- Perang Timur Tengah Belum Ganggu Ekspor DIY, Disperindag Tetap Waspada
- Dolar AS Perkasa, Rupiah Melemah ke Level Rp16.930 Imbas Geopolitik
- Lantik Direktur Baru, LPS Pastikan Keamanan Dana Masyarakat Terjaga
- Perang Iran-Israel Memanas, Begini Nasib Pariwisata di Jogja
- Harga Ayam Ras Melonjak, Mentan Bongkar Ulah Distributor Nakal
Advertisement
Advertisement





