Advertisement
Dolar AS Perkasa, Rupiah Melemah ke Level Rp16.930 Imbas Geopolitik
Ilustrasi rupiah. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA–Kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian mulai memberikan tekanan nyata terhadap stabilitas nilai tukar rupiah pada perdagangan tengah pekan. Mata uang Garuda dibuka melemah sebesar 58 poin atau setara 0,34 persen, sehingga posisinya kini bertengger di level Rp16.930 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp16.872 per dolar AS.
Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang meningkatkan sentimen risk-off di kalangan pemodal dunia. Fenomena ini mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang menuju aset aman (safe haven) seperti dolar AS, yang diperparah dengan memudarnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat akibat solidnya data ekonomi Amerika Serikat.
Advertisement
"Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan sentimen risk-off dan mendorong arus dana ke aset safe haven seperti dolar AS," ucap Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva, saat memberikan keterangan di Jakarta pada Rabu (4/3/2026).
Selain faktor perang, pernyataan pejabat Federal Reserve yang cenderung berhati-hati terhadap inflasi membuat asumsi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama di pasar global.
BACA JUGA
Kenaikan harga minyak dunia turut menjadi beban tambahan bagi nilai tukar rupiah karena adanya risiko gangguan pasokan energi internasional. Kondisi ini dikhawatirkan akan memicu tekanan inflasi domestik serta memperlebar defisit neraca impor energi, mengingat ketergantungan Indonesia terhadap pasar minyak global yang saat ini sedang mengalami gejolak harga yang cukup signifikan.
Meski didera sentimen negatif global, fundamental ekonomi dalam negeri sebenarnya menunjukkan ketahanan yang relatif kuat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus mencapai 95 miliar dolar AS, sebuah angka yang mencerminkan aliran devisa tetap terjaga dengan baik guna mendukung ketahanan sektor eksternal dari guncangan luar.
Namun, dampak positif dari surplus perdagangan tersebut untuk sementara waktu masih tertahan oleh dominasi pergerakan dolar AS yang sangat perkasa.
Para pelaku pasar kini cenderung bergerak hati-hati sambil terus memantau dinamika eksternal, di mana pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik serta kebijakan moneter terbaru yang akan diambil oleh bank sentral Amerika Serikat dalam merespons laju inflasi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Waspada Leptospirosis di Kota Jogja, Enam Kasus Ditemukan Awal 2026
Advertisement
Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh
Advertisement
Berita Populer
- Penerbangan Normal, Amphuri Sebut Umrah DIY Tetap Berjalan
- Waspada Inflasi, BPS Kota Jogja Pantau Dampak Perang Terhadap Emas
- Harga Emas Galeri24 dan UBS Kompak Melemah Hari Ini
- Emas Antam Anjlok, Cek Rincian Harga Terbaru
- Perang Timur Tengah Belum Ganggu Ekspor DIY, Disperindag Tetap Waspada
- Dolar AS Perkasa, Rupiah Melemah ke Level Rp16.930 Imbas Geopolitik
Advertisement
Advertisement







