Advertisement

Experience Economy Diprediksi Menguat, Jogja Punya Modal Besar

Lugas Subarkah
Senin, 05 Januari 2026 - 19:07 WIB
Sunartono
Experience Economy Diprediksi Menguat, Jogja Punya Modal Besar Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Tren experience economy diperkirakan semakin menguat pada 2026. Sebagai kota wisata, Jogja dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor ini guna memperkuat perekonomian daerah.

Potensi experience economy di Jogja didukung ragam wisata berbasis pengalaman, mulai dari wellness, kuliner, kafe, seni budaya, konser musik hingga pameran. Selama libur Natal dan Tahun Baru, lebih dari 5 juta wisatawan berkunjung ke Jogja dan sebagian besar membelanjakan uangnya untuk pengalaman wisata.

Advertisement

Secara nasional, Celios memproyeksikan experience economy pada 2026 mampu mendorong perekonomian hingga Rp442,01 triliun, berkontribusi Rp372,75 triliun terhadap PDB, serta membuka lapangan kerja bagi 6,98 juta orang. Sub sektor dominan meliputi fashion, kriya, kuliner, penerbitan, aplikasi gim, periklanan, film, animasi, dan seni pertunjukan.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menjelaskan potensi experience economy jogja cukup besar karena menjadi destinasi wisata mulai dari wellness, cafe, atraksi budaya, konser musik dan pameran seni.

“Ada 5 juta lebih pelancong ke Jogja selama nataru [natal dan tahun baru], sebagian melakukan belanja experience economy. Inovasinya terus berkembang, misalnya ketika ada lebih dari 800 cafe menyajikan kopi di jogja, kemudian muncul booming matcha yang menawarkan pengalaman berbeda,” ujarnya, Minggu (4/1/2026). 

Secara nasional, Celios memproyeksikan experience economy pada 2026 ini dapat mendorong perekonomian sampai Rp442,01 triliun. Sektor ini juga berkontribusi sebesar Rp372,75 triliun pada Produk Domestik Bruto (PDB) dan membuka lapangan kerja untuk 6,98 juta jiwa.

Adapun subsektor yang dominan dalam experience economy ini diantaranya fashion senilai Rp104,3 triliun, kriya Rp71,5 triliun, kuliner Rp44,5 triliun, penerbitan Rp11,2 triliun, aplikasi dan game Rp3,1 triliun, periklanan Rp1,9 triliun, film dan animasi Rp1,19 trilun dan seni pertunjukan Rp0,54 triliun.

Menurutnya, konser musik menjadi salah satu event di Jogja yang mendongkrak experience economy. “Potensi konser musik berbagai genre cukup ramai di Jogja. Pesertanya pun berasal dari dalam dan luar negeri,” ungkapnya.

Meski demikian, beberapa tantangan masih harus dihadapi diantaranya promosi event, lama tinggal atau duration of stay dan fokus wisatawan masih di tengah Kota Jogja. “Perlu pengembangan lebih masif lagi layanan experience economy di selatan Jogja. Bisa berbentuk adventure alam maupun restoran dengan sajian khas,” kata dia.

Untuk mendukung tren ini, beberapa hal bisa dilakukan Pemda DIY. “Pemda bsia mengelola karst jadi kawasan eko wisata premium, memberi subsidi sewa lahan atau stadion untuk acara konser musik,” katanya.

Pemda DIY juga bisa memastikan transportasi publik terintegrasi ke lokasi experience economy sehingga mempermudah akses wisatawan. “Lalu fasilitas promosi ke wisatawan mancanegara juga bisa dioptimalkan lagi,” ujarnya.

Bhima menilai Pemda DIY perlu mendukung tren ini melalui pengembangan wisata di luar pusat kota, pengelolaan karst sebagai ekowisata premium, subsidi venue konser, serta integrasi transportasi publik guna memperkuat experience economy Jogja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Relokasi 109 Pedagang Pantai Sepanjang Rampung, Ini Tahap Lanjutannya

Relokasi 109 Pedagang Pantai Sepanjang Rampung, Ini Tahap Lanjutannya

Gunungkidul
| Rabu, 07 Januari 2026, 20:17 WIB

Advertisement

Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional

Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional

Wisata
| Rabu, 07 Januari 2026, 14:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement