Advertisement
Ekspor DIY Desember 2025 Turun, Industri Pengolahan Tertekan
Foto ilustrasi impor dan eksport. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Nilai ekspor DIY pada Desember 2025 tercatat menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dipicu pelemahan sektor industri pengolahan sebagai kontributor utama ekspor daerah. Hal ini diungkap Badan Pusat Statistik (BPS) DIY yang mencatat kontraksi kinerja ekspor secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat nilai ekspor DIY pada Desember 2025 mencapai 52,26 juta dolar AS atau turun 11,95% secara year-on-year (yoy) dibanding Desember 2024. Penurunan ekspor DIY tersebut terutama dipengaruhi kontraksi sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor daerah.
Advertisement
Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono, menjelaskan pada Desember 2025 nilai ekspor sektor industri pengolahan mengalami penurunan sekitar 12% yoy dengan kontribusi mencapai 98,35% terhadap total ekspor DIY. Komoditas utama yang mendominasi ekspor berasal dari pakaian bukan rajutan dan aksesorinya, pakaian rajutan dan aksesorinya, serta barang dari kulit samak.
Meski terjadi penurunan pada akhir tahun, secara kumulatif nilai ekspor DIY sepanjang Januari–Desember 2025 justru masih mencatat pertumbuhan tipis. Total ekspor DIY mencapai 558,72 juta dolar AS atau naik 2,14% dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar 547,01 juta dolar AS.
BACA JUGA
"Peningkatan kinerja ekspor tersebut hampir seluruhnya disumbang oleh sektor industri pengolahan, yang berkontribusi 99,02% terhadap total ekspor DIY selama periode tersebut," jelasnya.
Sentot menambahkan negara tujuan utama ekspor DIY sepanjang Januari–Desember 2025 masih didominasi Amerika Serikat (AS), Jerman, dan Jepang dengan pangsa gabungan mencapai 61,78% dari total ekspor. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 43,68%, diikuti Jerman 10,79% dan Jepang 7,31%.
Komoditas ekspor DIY ke Amerika Serikat didominasi produk pakaian bukan rajutan dan aksesorinya, barang dari kulit samak, serta pakaian rajutan dan aksesorinya. Sementara ekspor ke Jerman dan Jepang juga didominasi produk pakaian jadi dan hasil industri pengolahan lainnya.
Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi dan Keanggotaan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY, Timotius Apriyanto, menilai capaian ekspor DIY sepanjang 2025 masih menjadi sinyal positif meskipun terdapat tekanan pada akhir tahun. Ia menekankan pentingnya strategi diversifikasi pasar ekspor sebagai langkah antisipasi ketidakpastian global.
Menurutnya, selain menjaga pasar Amerika Serikat, pelaku usaha perlu menyiapkan contingency planning melalui perluasan pasar baru, termasuk memanfaatkan peluang kerja sama Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership (IEU-CEPA). Dengan populasi Uni Eropa mendekati 500 juta jiwa, potensi pasar dinilai sangat besar bagi produk ekspor DIY.
"Sehingga tetap saya sampaikan bahwa kita penting untuk diversifikasi pasar ke Eropa Timur khususnya, karena di Eropa Barat sedang menghadapi resesi ekonomi juga," ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Selain kawasan Eropa, Timotius juga mendorong penetrasi ekspor ke pasar Afrika seperti Sudan Selatan dan Ethiopia yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi, serta negara lain seperti Turki, Uni Emirat Arab, Tiongkok, dan kawasan Asia lainnya sebagai bagian strategi diversifikasi ekspor DIY.
"Nah ini menarik, diversifikasi itu tetap menjadi bagian dari strategi perdagangan internasional kita, diversifikasi pasar ekspor, saya kira begitu," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Ancaman Siber Naik Tajam, OJK Minta Nasabah Jadi Benteng Pertama
- Eh, Ada Diskon 30 Persen Tiket Kereta Api untuk Lebaran, Ini Daftarnya
- BPOM Sita 41 Obat Herbal Ilegal Mengandung Bahan Kimia Obat
- Buyback Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Turun Serempak
- Cek Saldo Minimum Mandiri, BRI, BNI Terbaru Februari 2026
Advertisement
Ahli Gizi RSA UGM Sarankan Menu Rendah Kalori Saat Puasa
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Indonesia Tak Bisa Tarik Pajak Digital Perusahaan AS, Ini Sebabnya
- Manipulasi Saham IMPC, OJK Denda Pelaku Rp5,7 Miliar
- Hotel Tentrem Jogja Sajikan Menu Khas Banjarmasin saat Ramadan
- Produk Tekstil RI Bebas Tarif ke AS, API DIY Soroti Tantangan
- Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Global Trump, Dampak Meluas
- Putusan MA Batasi Wewenang, Trump Terapkan Tarif Global Baru 10 Persen
- Harga Emas Antam Melonjak Tajam, Tembus Rp3 Juta per Gram
Advertisement
Advertisement






