Advertisement
Produk Tekstil RI Bebas Tarif ke AS, API DIY Soroti Tantangan
Foto ilustrasi impor dan eksport. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Tariff (ART) di Washington DC, Kamis (19/2/2026). Melalui kesepakatan ini, sejumlah produk ekspor Indonesia, termasuk tekstil dan apparel, mendapatkan fasilitas tarif masuk 0% ke pasar AS dengan mekanisme tariff rate quota (TRQ).
Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY, Timotius Apriyanto, menilai kesepakatan tersebut sebagai langkah maju yang patut diapresiasi. Menurutnya, kebijakan ini merupakan hasil advokasi panjang yang dilakukan API di tingkat nasional hingga internasional.
Advertisement
“Ini tentu kemajuan yang positif dibandingkan jika sama sekali tidak ada negosiasi. Prosesnya panjang dan melalui berbagai tahapan,” ujar Timotius, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, sejak Juli 2025 API telah bergerak proaktif melakukan pendekatan dengan otoritas perdagangan AS. Namun, kebijakan tarif nol persen tersebut tidak diberikan tanpa syarat. Salah satu kompensasi yang diminta adalah komitmen pembelian kapas atau katun dari AS dengan kuota tertentu.
BACA JUGA
Secara umum, API DIY memandang ART sebagai progres penting dalam merespons tarif resiprokal sebesar 19% yang sebelumnya membebani produk tekstil Indonesia. Meski demikian, Timotius mengingatkan masih terdapat pekerjaan rumah, terutama terkait kejelasan petunjuk teknis dan mekanisme operasional di lapangan.
“Manfaat kebijakan ini akan optimal jika aturan teknisnya jelas, sehingga bisa berdampak luas bagi perdagangan Indonesia, khususnya sektor tekstil dan produk tekstil,” katanya.
Ia juga menyoroti risiko sanksi tarif jika produk tekstil Indonesia mengandung bahan baku dari negara yang dikenai tarif tinggi oleh AS, seperti Tiongkok, Taiwan, atau Vietnam. Jika kandungan bahan baku tersebut melebihi batas tertentu, produk ekspor tetap berpotensi dikenai bea masuk tambahan.
“Kalau komponen dari negara-negara itu lebih dari 40%, sanksi tarif masih berlaku. Jadi pelaku usaha harus sangat berhati-hati,” ujarnya.
Meski masih menyisakan tantangan, Timotius menilai kebijakan ART memberikan efek psikologis positif bagi pelaku industri. Dari sebelumnya dikenakan tarif 19%, kini sebagian komoditas bisa menikmati tarif 0% dengan ketentuan tertentu.
Ia menambahkan, pelonggaran tarif ini berpotensi menguntungkan Indonesia mengingat neraca perdagangan kedua negara berada di kisaran 20–25 miliar dolar AS. Bahkan, sekitar 40% ekspor DIY selama ini diserap oleh pasar AS.
“Kontribusi ekspor ke Amerika sangat besar, termasuk bagi DIY yang hampir 40% ekspornya menuju pasar AS,” imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa dalam ART terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik sektor pertanian maupun industri, yang mendapatkan tarif nol persen. Komoditas tersebut mencakup minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, hingga komponen elektronik dan semikonduktor.
Khusus produk tekstil dan apparel, AS memberikan tarif 0% dengan mekanisme TRQ. Kebijakan ini diperkirakan berdampak langsung pada sekitar 4 juta pekerja di sektor tekstil, serta berpengaruh pada penghidupan sekitar 20 juta masyarakat Indonesia beserta keluarganya.
Di sisi lain, Indonesia juga memberikan tarif 0% bagi sejumlah produk asal AS, terutama turunan gandum dan kedelai. Dengan kebijakan tersebut, produk seperti mi, tahu, dan tempe berbahan baku impor dari AS dapat masuk ke Indonesia tanpa bea masuk.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Avtur Mahal, Biaya Tambahan Tiket Pesawat Naik, Ini Dampaknya
- Program Bedah Rumah Diperluas Tahun Ini Jangkau Seluruh Daerah
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
- Lonjakan Harga Plastik Tekan UMKM Makanan Minuman di DIY
- Nasib BBM Nonsubsidi Belum Pasti, Harga Sekarang Hanya Sementara
- Utang Pinjol Tembus Rp100 Triliun Waspada Risiko Kredit Meningkat
- Indonesia Buka Opsi Impor Minyak dari Rusia untuk Amankan BBM
Advertisement
Advertisement






