Advertisement

IHSG Terjun Bebas, Pakar UGM Soroti Krisis Kepercayaan Pasar

Abdul Hamied Razak
Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:37 WIB
Abdul Hamied Razak
IHSG Terjun Bebas, Pakar UGM Soroti Krisis Kepercayaan Pasar Foto ilustrasi. Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Gejolak tajam mengguncang pasar modal Indonesia setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok drastis pada 29 Januari 2026. Penurunan tajam tersebut bahkan memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt untuk kedua kalinya, tak lama setelah IHSG sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134,70.

Guru Besar Keuangan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Prof. Dr.rer.soc. R. Agus Sartono, M.B.A., menilai kejatuhan IHSG dipicu krisis kepercayaan terhadap transparansi pasar modal Indonesia. Menurutnya, reaksi berantai investor global dipicu oleh kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara penilaian saham Indonesia.

Advertisement

“MSCI menerapkan interim freeze terhadap saham Indonesia yang langsung menghancurkan ekspektasi pertumbuhan jangka pendek,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/1/2026).

Agus menjelaskan MSCI menyoroti lemahnya transparansi data struktur kepemilikan saham (beneficial ownership) serta tingginya konsentrasi kepemilikan di sejumlah emiten besar. Selain itu, keterbatasan keterbukaan kode broker dan domisili selama jam perdagangan, serta potensi penerapan full call auction pada saham-saham tertentu, membuat proses pembentukan harga dinilai tidak transparan.

Kondisi tersebut mendorong investor asing melakukan aksi jual bersih secara masif. Pada 28 Januari 2026, net sell asing tercatat mencapai Rp6,17 triliun, disusul Rp4,63 triliun pada keesokan harinya.

“Tekanan inilah yang membuat BEI menjadi thin market, sehingga mudah digoreng dan volatilitas semakin tinggi,” tuturnya.

Situasi pasar semakin tertekan setelah pengunduran diri Direktur Utama BEI pada 30 Januari 2026, yang dipandang sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak ekstrem. Tekanan kian dalam ketika Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar serta Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Inarno Djajadi juga menyatakan mundur di hari yang sama.

Reaksi Pasar yang Sangat Cepat

Agus Sartono menjelaskan cepatnya respons pasar tidak terlepas dari prinsip dasar investasi yang bertumpu pada ekspektasi arus kas masa depan dan imbal hasil yang melampaui biaya modal.

Keputusan MSCI menimbulkan kekhawatiran bahwa harga saham tidak lagi mencerminkan nilai sebenarnya. Investor mencurigai adanya transaksi semu yang melibatkan pihak-pihak terkait pemilik mayoritas saham, sementara kinerja fundamental perusahaan sebenarnya lemah.

“Penelitian mahasiswa saya di FEB UGM menunjukkan adanya perilaku FOMO atau ikut-ikutan tanpa analisis mendalam. Banyak investor membeli saham hanya karena euforia,” ujarnya.

Aksi jual beruntun tersebut diperparah oleh herding behavior investor domestik yang turut melepas aset demi menghindari potensi kerugian lebih besar. Alih-alih menenangkan pasar, fenomena ini justru memperdalam kejatuhan IHSG.

Menurut Agus, anjloknya IHSG kali ini bukan sekadar fluktuasi teknikal, melainkan sinyal kuat tuntutan pasar global terhadap tata kelola yang lebih baik. OJK dan BEI, kata dia, menghadapi pekerjaan besar untuk memperbaiki aturan free float serta keterbukaan pemilik manfaat saham.

Evaluasi Aturan IPO

Agus Sartono juga menyoroti perlunya pemerintah melalui OJK meninjau kembali kebijakan yang mengizinkan perusahaan dengan arus kas negatif melakukan IPO. Menurutnya, hal ini penting untuk melindungi investor kecil sekaligus mencegah praktik korporasi yang berisiko tinggi.

Ia mengingatkan pengalaman sejumlah startup yang sempat oversubscribe saat IPO karena narasi prospek berlebihan, namun kemudian sahamnya terjun bebas di pasar sekunder dan merugikan investor.

“Pasar modal seharusnya menjadi sumber pembiayaan jangka panjang yang sehat bagi pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Keterbukaan Jadi Kunci Kepercayaan

Akar persoalan, lanjut Agus, tetap bermuara pada keterbukaan informasi publik. Bursa yang maju justru memiliki persyaratan pencatatan saham yang semakin ketat demi menjaga integritas pasar.

Perusahaan publik dituntut menyajikan laporan keuangan yang transparan, kredibel, dan sesuai standar, dengan dukungan profesi akuntan serta lembaga pemeringkat yang terpercaya. Edukasi masyarakat terkait valuasi perusahaan juga dinilai krusial agar keputusan investasi tidak semata didorong euforia.

Dalam situasi ekonomi saat ini yang diwarnai melambatnya kredit, tingginya pengangguran, dan risiko defisit, Agus menekankan pentingnya kembali fokus pada fundamental perusahaan.

Ia merekomendasikan pendekatan berbasis Free Cash Flow (FCF) sebagai indikator utama kesehatan bisnis.

“FCF lebih mencerminkan kemampuan perusahaan bertahan dan berkembang. Ini juga meminimalkan potensi manipulasi laporan laba,” ujarnya.

Berbeda dengan laba bersih yang mudah dipoles lewat kebijakan akuntansi, FCF menunjukkan kas riil yang tersisa setelah biaya operasional dan belanja modal terpenuhi.

“Kalau FCF negatif sementara laba akuntansi positif, itu bisa menjadi sinyal peringatan awal adanya masalah,” jelasnya.

Krisis IHSG akhir Januari 2026, menurut Agus, menjadi pengingat pentingnya pasar modal yang efisien secara informasi. BEI dan OJK dituntut memastikan seluruh emiten patuh aturan keterbukaan, meski konsekuensinya biaya kepatuhan lebih tinggi.

“Kepercayaan dibangun dalam waktu lama. Kita mungkin rugi akibat krisis ini, tapi jangan sampai kehilangan integritas dan reputasi pasar,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Target PAD Retribusi Pasar Bantul 2026 Dipatok Rp5,5 Miliar

Target PAD Retribusi Pasar Bantul 2026 Dipatok Rp5,5 Miliar

Bantul
| Sabtu, 31 Januari 2026, 17:17 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement