Advertisement
Perang Iran vs AS-Israel Bikin Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam
Ilustrasi perdagangan minyak mentah dunia / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, LONDON—Perang Iran vs AS-Israel yang semakin memanas memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus mengguncang pasar saham global. Eskalasi konflik di Timur Tengah tersebut menimbulkan kekhawatiran besar terhadap gangguan pasokan energi internasional, terutama distribusi minyak melalui jalur strategis Selat Hormuz.
Laporan BBC menyebutkan harga minyak dunia telah melonjak melampaui US$100 per barel seiring meningkatnya ketegangan konflik Iran vs AS-Israel. Pasar energi global menyoroti potensi gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak dari kawasan Teluk yang menjadi salah satu pusat produksi energi terbesar di dunia.
Advertisement
Pada perdagangan di Asia, Senin (9/3/2026), harga minyak mentah Brent melonjak hampir 24% hingga mencapai US$114,74 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Nymex light sweet juga mengalami kenaikan lebih dari 26% hingga menyentuh US$114,78 per barel. Lonjakan harga minyak dunia tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
BACA JUGA
Sejumlah analis bahkan memperkirakan jika jalur pelayaran di Selat Hormuz benar-benar tertutup hingga akhir Maret 2026, harga minyak dunia berpotensi menembus rekor baru di atas US$150 per barel.
Adnan Mazarei dari Peterson Institute for International Economics menjelaskan lonjakan harga minyak dunia sebenarnya telah diperkirakan oleh pasar. Hal ini terjadi karena produksi minyak di sejumlah negara Teluk sempat dihentikan, sementara indikasi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah terus menguat.
"Orang-orang menyadari bahwa ini [perang] tidak akan berakhir dengan cepat," katanya dilansir dari BBC, Senin (9/3/2026).
Kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi meningkatkan biaya berbagai produk turunan energi, termasuk bahan bakar jet hingga bahan baku penting dalam industri pupuk. Dampak tersebut membuat lonjakan harga minyak tidak hanya memengaruhi sektor energi, tetapi juga berisiko memicu tekanan ekonomi global.
Di tengah lonjakan harga minyak dunia tersebut, Presiden AS Donald Trump menilai kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi kecil yang harus dihadapi demi menghilangkan ancaman program nuklir Iran.
Selain memicu lonjakan harga minyak dunia, konflik Iran vs AS-Israel juga mengguncang pasar saham global. Pada perdagangan Senin (9/3/2026) pagi, indeks Nikkei 225 di Jepang merosot lebih dari 7%, indeks Hang Seng di Hong Kong turun lebih dari 3%, sedangkan indeks ASX 200 di Australia melemah lebih dari 4%.
Indeks Kospi Korea Selatan bahkan anjlok lebih dari 8%, memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt selama sekitar 20 menit di bursa saham Korea Selatan.
Eskalasi konflik Iran vs AS-Israel juga semakin intens dalam beberapa hari terakhir. Pada Minggu (8/3/2026), Iran menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Penunjukan tersebut menunjukkan bahwa meskipun konflik telah berlangsung sekitar sepekan, pemerintah Iran masih memegang kendali politik di negara tersebut.
Juru Bicara Iran’s Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Islam Iran Ali Mohammad Naini menyatakan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk mempertahankan perang dalam skala besar setidaknya selama enam bulan.
"Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran mampu melanjutkan perang intensif setidaknya selama 6 bulan dengan kecepatan operasi saat ini," kata Ali dilansir dari The Guardian pada Minggu (8/3/2026).
IRGC juga menyebut lebih dari 200 lokasi yang terkait dengan pangkalan militer dan fasilitas milik Amerika Serikat serta Israel telah menjadi target serangan Iran di berbagai wilayah.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel terus meningkatkan intensitas operasi militer. Gelombang serangan udara baru dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Iran sepanjang akhir pekan.
Serangan terbaru dari Israel dilaporkan menghantam empat fasilitas penyimpanan minyak serta pusat transfer produksi minyak di Teheran dan provinsi Alborz.
Amerika Serikat juga memperkuat kehadiran militernya di kawasan tersebut dengan mempersiapkan pengiriman kapal induk ketiga ke Timur Tengah, yakni USS George H.W. Bush.
Dilansir dari Middle East Monitor yang mengutip Fox News, USS George H.W. Bush telah menyelesaikan persiapan keberangkatan menuju Mediterania Timur setelah menjalani latihan di lepas pantai Pulau Hatteras, Carolina Utara. Kapal induk tersebut membawa puluhan pesawat tempur dan akan didampingi kapal perusak berpeluru kendali.
Saat ini Amerika Serikat telah mengandalkan dua kapal induk dalam konflik dengan Iran, yaitu USS Gerald R. Ford yang beroperasi di Laut Merah serta USS Abraham Lincoln di Laut Oman. Penambahan kekuatan militer tersebut semakin mempertegas eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus menjadi perhatian pasar energi global dalam memantau pergerakan harga minyak dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Harga Emas Pegadaian 9 Maret: UBS dan Galeri24 Stabil
- Konflik Timur Tengah Picu Harga Minyak Dunia Naik 20 Persen
- Perang Iran vs AS-Israel Bikin Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam
- Hindari Konflik, Eksportir DIY Alihkan Jalur Ekspor ke Luar Suez
- Menteri ESDM, Harga BBM Subsidi Tidak Akan Naik hingga Lebaran 2026
- Warga Sleman Siap-siap, Bakal Ada 1.000 Sambungan Jargas Baru
- Mudik Gratis Dinilai Efisien Redam Risiko Kecelakaan Lebaran
Advertisement
Advertisement






