Advertisement
Israel Akui Strategi Perang Iran Cuma 3 Pekan, Harga Minyak Melonjak
Api dan asap membubung dari bangunan pertanian di Lebanon selatan, seperti yang terlihat dari Kiryat Shmona di Israel utara yang berbatasan dengan Lebanon, menyusul pemboman oleh tentara Israel, pada 23 November 2023. - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Perang Israel–Iran yang terus memanas mulai menimbulkan kekhawatiran global, termasuk dampaknya bagi ekonomi Indonesia. Militer Israel bahkan mengungkap bahwa mereka hanya memiliki rencana operasi perang yang disusun secara rinci untuk tiga pekan ke depan dalam menghadapi Iran. Pernyataan ini muncul saat serangan udara Israel terus menggempur berbagai target di Iran dan konflik di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Dalam rencana jangka pendek tersebut, militer Israel menargetkan pelemahan besar-besaran terhadap kemampuan pertahanan Iran, mulai dari infrastruktur militer hingga fasilitas strategis yang dianggap berpotensi mengancam Israel.
Advertisement
Juru bicara militer Israel, Nadav Shoshani, mengatakan bahwa strategi militer Israel disusun dengan sangat rinci untuk periode tiga pekan ke depan, sekaligus mencakup kemungkinan langkah lanjutan setelah fase tersebut berakhir.
“Kami ingin memastikan rezim ini menjadi selemah mungkin dan seluruh kemampuan mereka, di semua lini aparat keamanan, dapat dilumpuhkan,” ujar Shoshani, dikutip dari Alarabiya.
BACA JUGA
Menurut militer Israel, operasi yang sedang berlangsung difokuskan pada sejumlah target penting, termasuk infrastruktur rudal balistik Iran, fasilitas nuklir, serta aparat keamanan negara tersebut. Israel menegaskan operasi ini bertujuan melemahkan kemampuan Iran untuk melancarkan ancaman terhadap wilayah Israel.
Dalam operasi militer ini, Israel juga diketahui telah memobilisasi lebih dari 110.000 pasukan cadangan. Selain itu, militer Israel mengklaim masih memiliki ribuan target tambahan yang berada di dalam wilayah Iran dan berpotensi menjadi sasaran serangan berikutnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran menunjukkan sikap keras terhadap tekanan militer yang terus berlangsung. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak mengajukan permintaan gencatan senjata kepada pihak mana pun.
Ia juga menyatakan bahwa Iran tidak melakukan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat terkait konflik tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Student News Network Iran. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur meskipun menghadapi tekanan militer yang semakin besar.
Dampak Global: Selat Hormuz Tegang, Harga Minyak Naik
Memasuki pekan ketiga konflik, ketegangan juga mulai berdampak pada jalur perdagangan energi global. Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, kini berada dalam kondisi tegang akibat eskalasi konflik.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair global melewati jalur ini. Gangguan terhadap jalur tersebut membuat pasar energi dunia langsung bereaksi.
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Brent crude tercatat menembus lebih dari US$104 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$100 per barel.
Kenaikan harga energi global ini memicu kekhawatiran meningkatnya inflasi di berbagai negara. Dampaknya juga mulai terasa di Indonesia.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bahkan sempat menyentuh level psikologis di atas Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (16/3). Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan pada daya beli masyarakat, terutama jika harga energi dan biaya logistik ikut meningkat.
Trump Serukan Koalisi Global
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menyoroti situasi di Selat Hormuz. Pada Minggu, ia menyerukan pembentukan koalisi internasional untuk menjaga jalur pelayaran tersebut tetap terbuka.
Trump meminta negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk untuk ikut berperan melindungi jalur perdagangan vital tersebut.
Ia bahkan memperingatkan bahwa aliansi Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dapat menghadapi masa depan yang “sangat buruk” jika negara-negara anggotanya tidak mendukung langkah Washington.
Namun, respons dari berbagai negara masih beragam.
Jepang menyatakan tidak memiliki rencana mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Sementara Australia hanya bersedia memberikan dukungan terbatas berupa pengiriman pesawat pengintai militer dan sistem rudal untuk membantu pertahanan Uni Emirat Arab (UAE), tanpa menempatkan kapal perang di wilayah tersebut.
Adapun China, yang juga diharapkan terlibat dalam upaya menjaga keamanan jalur energi global, hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terhadap seruan Washington.
Dampaknya Bisa Sampai ke Kantong Masyarakat
Bagi masyarakat Indonesia, konflik di Timur Tengah ini bukan sekadar isu geopolitik internasional. Lonjakan harga minyak dunia berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi domestik.
Jika harga energi global terus meningkat, beban subsidi energi pemerintah bisa ikut membengkak. Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga BBM, biaya transportasi, dan biaya distribusi barang.
Ketika biaya logistik meningkat, harga berbagai kebutuhan pokok juga berpotensi ikut naik.
Sejumlah pengamat bahkan memperkirakan harga minyak dunia dapat menembus US$130 per barel jika konflik terus berkepanjangan. Situasi tersebut dapat menjadi tekanan besar bagi ekonomi Indonesia yang masih berupaya menjaga stabilitas harga dan pemulihan ekonomi.
Dalam situasi seperti ini, perkembangan konflik Israel dan Iran akan terus menjadi perhatian dunia. Pasalnya, setiap eskalasi baru di kawasan Timur Tengah tidak hanya memengaruhi stabilitas keamanan regional, tetapi juga berpotensi membawa dampak ekonomi hingga ke negara-negara yang jauh dari medan konflik, termasuk Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Pertamina Sebut Amankan Pasokan Energi Sebelum Gejolak Timur Tengah
- Tiket Lebaran Masih Tersedia, 41.067 Penumpang Padati Daop 6 Jogja
- Konflik AS-Iran Ancam Harga Minyak, Tekan Fiskal Indonesia
- Anggaran MBG Tembus Rp19 Triliun per Bulan, Ini Datanya
- Pertamina Antisipasi Gangguan Pasokan Energi dari Selat Hormuz
Advertisement
Layanan SIM Sleman Libur saat Lebaran 2026, Cek Jadwal Dispensasi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Pertamina Tambah 9 Juta Tabung Elpiji 3 Kg Jateng-DIY Jelang Lebaran
- Harga Emas Hari Ini Senin 16 Maret 2026: UBS dan Galeri24 Stabil
- Bahlil Percepat Proyek Blok Masela Rp339 Triliun, Segera Tender EPC
- Harga Emas Antam Hari Ini Senin 16 Maret 2026 Turun Rp5.000 Per Gram
- Mendag Pastikan Stok Pangan Aman dan Harga Stabil Jelang Lebaran 2026
- Tiket Lebaran Masih Tersedia, 41.067 Penumpang Padati Daop 6 Jogja
- Pertamina Sebut Amankan Pasokan Energi Sebelum Gejolak Timur Tengah
Advertisement
Advertisement








