Advertisement
Plastik Naik Dua Kali Lipat, Usaha Jogja Mulai Tertekan
Foto ilustrasi kemasan plastik, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Lonjakan harga plastik hingga 100% mulai dirasakan pelaku usaha di DIY dan menekan operasional, baik sektor ritel maupun UMKM. Kenaikan biaya ini memaksa pelaku usaha menghadapi dilema antara menaikkan harga atau menanggung beban produksi yang terus membengkak.
Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Aditya Suryadinata, mengungkapkan kondisi ekonomi saat ini membuat pelaku ritel tidak leluasa menaikkan harga jual, meskipun biaya bahan baku terus meningkat.
Advertisement
Ia menyebut plastik menjadi salah satu komponen yang mengalami kenaikan signifikan, bersamaan dengan bahan baku lain. Kondisi ini pada akhirnya memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian harga secara bertahap.
"Jadi tidak dipungkiri jikalau kenaikan harga bahan baku semuanya naik, terpaksa harga jual juga mulai kami naikkan," ujarnya, Kamis (9/4/2026).
BACA JUGA
Di tengah tekanan tersebut, pelaku ritel mulai mendorong perubahan perilaku konsumen dengan mengajak penggunaan tas pakai ulang. Langkah ini dinilai dapat menekan penggunaan plastik sekali pakai sekaligus mendukung gerakan ramah lingkungan.
Menurut Aditya, sejumlah anggota Aprindo DIY bahkan telah menyediakan alternatif reusable bag di berbagai outlet untuk memudahkan pelanggan beralih ke kebiasaan yang lebih berkelanjutan.
"Anggota kami sudah mulai dari dulu untuk memberikan alternatif reusable bag yang dapat dibeli oleh customer-customer kami di beberapa outlet anggota Aprindo DIY," jelasnya.
Sebelumnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY juga menyoroti dampak kenaikan harga plastik terhadap pelaku UMKM, terutama di sektor makanan dan minuman.
Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, mengatakan lonjakan harga kemasan membuat struktur biaya produksi meningkat, sehingga margin keuntungan pelaku usaha semakin tergerus.
Ia menambahkan, banyak pelaku UMKM memilih tidak menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan. Akibatnya, beban biaya ditanggung sendiri hingga berisiko mengganggu keberlanjutan usaha.
Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penyesuaian, potensi terburuk adalah penutupan usaha. Selain itu, pelaku usaha juga bisa mengambil langkah efisiensi seperti mengurangi jam kerja atau tenaga kerja.
"Di DIY, inflasi bulanan masih banyak ditopang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kenaikan harga kemasan berpotensi memperkuat tekanan ini jika pelaku FnB terpaksa menyesuaikan harga jual ke konsumen," ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada biaya produksi, tetapi juga berpotensi memicu tekanan inflasi serta perubahan pola konsumsi masyarakat di daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
- Forbes April 2026: Kekayaan Elon Musk Tembus Rp13.746 Triliun
Advertisement
Lereng Barat Daya Merapi Diguyur Deras, Warga Diminta Waspada
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Iuran Belum Naik, BPJS Kesehatan Pilih Suntikan Dana dan Pencegahan
- Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 4,7 Persen di 2026
- Melonjak, Ini Harga Emas Antam, UBS dan Galeri24 Kamis 9 April 2026
- Tekanan Global Menguat, BI Cenderung Tahan Penurunan Suku Bunga
- KUHP Baru Ubah Arah Hukum Bisnis, Dunia Usaha Diminta Siap
- Utang Dijaga Ketat di Tengah Sinyal Ekonomi Menguat
- Okupansi Hotel DIY Capai 63 Persen Saat Libur Paskah
Advertisement
Advertisement







