Sultan Luncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk Perguruan Tinggi
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan PKJ untuk perguruan tinggi dan mendorong ilmu lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Shadati
Harianjogja.com, JOGJA — Konflik geopolitik global yang melibatkan Iran mulai menekan kinerja ekspor Indonesia. Ketidakpastian global ini memicu kenaikan harga energi, mengganggu rantai pasok, serta melemahkan permintaan internasional.
Pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Susilo Nur Aji Cokro Darsono, menjelaskan dampak tersebut terjadi melalui tiga jalur utama, yakni energy price shock, trade disruption, dan global demand contraction.
“Ketiganya saling memengaruhi. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi global, gangguan perdagangan memperlambat logistik, dan kontraksi permintaan membuat ekspor manufaktur semakin melemah,” ujarnya.
Tekanan dari Harga Energi hingga Permintaan Global
Susilo memaparkan, kenaikan harga energi global memang memberi keuntungan bagi sektor komoditas seperti batu bara dan gas alam cair (LNG) melalui efek harga (price effect).
Namun di sisi lain, sektor manufaktur justru menghadapi tekanan berlapis. Biaya produksi meningkat, rantai pasok terganggu, serta permintaan global melemah.
Kombinasi ini memicu cost-push inflation sekaligus kontraksi permintaan (demand contraction) yang menekan industri dalam negeri.
Surplus Perdagangan Menyusut
Ia menilai penyusutan surplus perdagangan Indonesia tidak bisa dilihat sebagai penurunan permintaan semata.
“Penyusutan surplus perdagangan merupakan kombinasi dari price effect, volume effect, serta dinamika impor energi,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan adanya external shock yang memengaruhi struktur neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.
Risiko Re-Primarisasi Ekonomi
Susilo mengingatkan, sektor manufaktur padat energi menjadi yang paling rentan terhadap guncangan geopolitik. Industri yang terhubung dalam rantai nilai global memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan baku dan energi.
Jika kondisi ini tidak diantisipasi, dominasi sektor komoditas berpotensi kembali menguat.
“Ketika sektor komoditas semakin dominan akibat kenaikan harga global, sementara manufaktur melemah, terdapat risiko re-primarisasi ekonomi,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dinilai dapat menurunkan daya saing industri nasional serta memperlambat transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi.
Susilo menegaskan, dinamika konflik geopolitik global perlu dijadikan sinyal penting untuk memperkuat ketahanan struktur ekspor Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan PKJ untuk perguruan tinggi dan mendorong ilmu lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Timnas basket Indonesia mengalahkan Singapura 80-54 di Pra-Kualifikasi FIBA Asia Cup 2029. Indonesia langsung memimpin Grup C.
BPN DIY memantau kasus dugaan mafia tanah yang menimpa keluarga almarhum Komaridin di Sleman dan telah menyerahkan warkah tanah kepada Polda DIY.
The Jakmania memboikot laga Persija vs Brisbane Roar karena kenaikan harga tiket. Persija mengalihkan tiket jatah suporter ke penjualan umum.
Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di DIY diperkuat edukasi gizi. Budi Waljiman mendorong SPPG tak hanya membagikan makanan, tetapi...
NNSiDE by Meliá Yogyakarta resmi memulai pembangunan ballroom baru melalui prosesi Groundbreaking Ceremony yang digelar pada Kamis (27/8).