Advertisement
Harga Minyak Anjlok 10 Persen, BBM Berpeluang Turun
Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Harga minyak dunia anjlok tajam hingga hampir 10 persen pada Jumat (17/4/2026), memicu harapan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia dalam waktu dekat. Penurunan ini terjadi setelah Selat Hormuz kembali dibuka selama masa gencatan senjata, sehingga pasokan energi global kembali lancar.
Data Reuters mencatat, minyak mentah Brent turun US$8,46 atau 8,5 persen menjadi US$90,93 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat merosot lebih dalam sebesar US$8,87 atau 9,4 persen ke level US$85,82 per barel. Penurunan ini tergolong ekstrem karena biasanya pergerakan harian hanya berkisar 1–2 persen.
Advertisement
Penurunan tajam tersebut langsung mengubah sentimen pasar global. Jalur Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia kini kembali normal, setelah sebelumnya sempat memicu lonjakan harga hingga di atas US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik.
Bagi Indonesia, kondisi ini membuka peluang penurunan harga BBM, khususnya nonsubsidi. Sebagai negara yang masih mengandalkan impor minyak, harga global sangat memengaruhi biaya produksi dan distribusi energi di dalam negeri.
BACA JUGA
Jika penurunan ini bertahan, bukan tidak mungkin harga BBM di SPBU akan ikut terkoreksi dalam beberapa pekan ke depan. Sebagai ilustrasi, penurunan sekitar Rp1.000 per liter dapat memberikan penghematan puluhan ribu rupiah per bulan bagi pengguna kendaraan pribadi.
Dampaknya tidak berhenti pada sektor transportasi. Penurunan harga energi berpotensi menekan biaya logistik distribusi barang, yang selama ini sangat bergantung pada bahan bakar. Dengan demikian, harga pangan seperti sayur, daging, dan kebutuhan pokok lainnya berpeluang ikut melandai.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga bisa merasakan manfaat langsung. Biaya operasional yang lebih rendah, terutama untuk usaha berbasis produksi dan distribusi, dapat meningkatkan margin usaha sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Meski demikian, situasi ini belum sepenuhnya aman. Pembukaan jalur energi global tersebut masih bersifat sementara dan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah. Jika konflik kembali memanas, harga minyak berpotensi melonjak kembali dalam waktu singkat.
Faktor lain seperti nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga akan menentukan apakah penurunan harga minyak benar-benar diterjemahkan menjadi penurunan harga BBM di dalam negeri.
Di sisi lain, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut negosiasi dengan Iran “hampir mencapai kesepakatan” masih perlu dibuktikan. Kepastian dari hasil diplomasi tersebut akan menjadi kunci stabilitas harga energi global dalam jangka menengah.
Untuk saat ini, masyarakat disarankan tetap mencermati perkembangan harga BBM di SPBU serta dinamika global. Penurunan harga minyak memang membawa harapan, tetapi ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Jika tren penurunan harga minyak dunia berlanjut dan stabilitas kawasan terjaga, peluang penurunan harga BBM di Indonesia akan semakin besar, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk menekan pengeluaran harian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Pakar UGM: WFH Jadi Solusi Jangka Pendek untuk Hemat Energi
- Harga Emas Hari Ini Turun, Antam Tembus Rp3 Juta per Gram
- Hore! Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Tak Naik hingga 2026
- Empat Negara Antre Impor Urea dari Indonesia
- Bulog Jogja Gelontorkan 21.900 Liter Minyakita ke Pasar
- Minyak Rusia Masuk Indonesia Bulan Ini, Pasokan Energi Mulai Bergeser
- Inflasi Naik, Ekonomi Eropa Dibayangi Risiko Resesi
Advertisement
Advertisement










