Kopi Kreatif Dorong Pemberdayaan Masyarakat

Kopi Kreatif Dorong Pemberdayaan Masyarakat Founder Kopi Kreatif (kiri) Yudhi Prasetyo bersama sejumlah rekannya saat mempromosikan aneka olahan produk berbahan baku kopi dalam sebuah acara di Stasiun Tugu Jogja pekan lalu. - Harian Jogja/Holy Kartika N.S
22 September 2018 10:30 WIB Holy Kartika Nurwigati Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Alih-alih memanfaatkan biji kopi yang tak layak konsumsi atau defect, Yudhi Prasetyo mencoba mengekstraksi kopi tersebut menjadi beragam produk wewangian. Melalui brand Kopi Kreatif (KoKe) yang diawali dari produk aksesori, Yudhi terus berinovasi sambil mendorong pemberdayaan masyarakat dan petani kopi lokal.

Ditemui beberapa waktu lalu dalam sebuah acara di Stasiun Tugu, Yudhi mengungkapkan permintaan pasar akan produk tentang kopi terus meningkat. Kini para penggemar kopi tak hanya melulu melirik aksesori serba kopi, tetapi mulai merambah pada produk inovatif lainnya.

"Melihat peluang dan permintaan pasar akan inovasi produk kopi, saya mencoba mengembangkan nama Kopi Kreatif ini dari hulu sampai hilir," ujar Yudhi.

Tak hanya aksesori seperti gelang, kalung, tasbih, rosario hingga kancing kopi yang dikembangkan laki-laki asal Palembang ini. Yudhi mulai mengekstrasi kopi menjadi parfum, pewangi mobil dan yang kali ini dipersiapkannya pengharum ruangan dan role on aroma terapi.

Diakui alumni Jurusan Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta ini, sejak memulai bisnis produk kopi nonkonsumsi, berbagai tantangan hingga kini masih dihadapinya. Yudhi tak menampik kreativitas produk yang dibuatnya bersama sejumlah rekannya, sangat mudah untuk ditiru.

Risiko tersebut tak lantas membuat Yudhi patah semangat untuk tetap mengembangkan produk yang tak semata berorientasi bisnis, tetapi juga untuk pemberdayaan masyarakat ini. "Saya ingin orang kalau melihat produk dengan turunan dari kopi, ingat kalau itu produk KoKe. Konsistensi terhadap pengembangan produk juga menjadi pegangan, sehingga saat ada orang yang mau duplikat produk ini, jadi antisipasi untuk kami agar bisa selalu bisa naik ke permukaan," ungkap Yudhi.

Sejak awal bisnis ini dirintis, Yudhi dan rekannya berkomitmen untuk dapat membuat usaha tersebut bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Prinsip hidup dan menghidupi, berlaku sebagai pedoman berbisnis dengan memanfaatkan peranan agen untuk memasarkan produk KoKe.

"Sejalan dengan itu pemberdayaan masyarakat juga penting bagi kami. Saat ini, untuk membantu produksi produk KoKe kami juga mendorong pemberdayaan masyarakat di daerah Prambanan Sleman dan Bantul," papar Yudhi.

Kekuatan keagenan menjadi konsistensi pengelolaan bisnis yang dijalankan Yudhi dan rekan-rekannya di KoKe. Saat ini, jumlah agen KoKe yang tersebar di beberapa kota di Indonesia mencapai 20 agen penjual. Pemanfaatan promosi dan pemasaran secara digital juga menjadi kekuatan manajemen bisnis yang dilakukannya. Seperti melalui platform sosial media Facebook dan Instagram, hingga beberapa marketplace ternama di Indonesia.

Produk KoKe yang berbahan baku biji-biji kopi dari petani kopi Palembang, Temanggung dan Bondowoso ini juga mencoba mempertahankan harga jual yang seragam. Kini, tak hanya pasar lokal saja yang mencoba dirambah Yudhi dengan KoKe.

"Upaya ekspor juga kami lakukan, seperti ke Rusia dan India. Tetapi memang repeat-nya tidak terlalu sering. Jadi kami tetap mencoba mengutamakan juga pasar lokalnya," jelas Yudhi.