Literasi Pasar Modal Rendah, BEI DIY Sebut Empat Kendala

Anisatul Umah
Anisatul Umah Sabtu, 08 Juni 2024 12:27 WIB
Literasi Pasar Modal Rendah, BEI DIY Sebut Empat Kendala

Ilustrasi pasar modal. /Bisnis Indonesia-Dedi Gunawan

Harianjogja.com, JOGJA—Bursa Efek Indonesia (BEI) Yogyakarta menyebut berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2022 secara nasional angka literasi dan inklusi pasar modal masih sangat rendah di bawah 10%. Di mana angka literasi 4,11% dan inklusi 5,19%.

Kepala BEI Yogyakarta, Irfan Noor Riza mengatakan setidaknya ada empat kendala dalam mendorong literasi dan inklusi pasar modal kepada masyarakat. Pertama, kurangnya pengetahuan tentang pasar modal. Belum ada kesadaran yang cukup untuk mengelola keuangan dengan baik.

Kedua, mayoritas masyarakat masih memiliki paradigma bahwa kegiatan pasar modal hanya untuk kalangan atas dan memerlukan banyak dana. Sehingga mereka masih enggan berpartisipasi aktif dalam pasar modal.

"Paradigma di masyarakat tentang pasar modal masih menjadi kendala," ucapnya, Sabtu (8/6/2024).

Ketiga, keterbatasan akses informasi yang akurat serta relevan tentang pasar modal. Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak bisa membuat keputusan yang tepat dalam investasi. Dan terakhir, kurangnya edukasi.

Menurutnya literasi keuangan khususnya pasar modal masih terbatas dan belum mencapai semua lapisan masyarakat di DIY. Sehingga masih banyak masyarakat yang pengetahuannya belum cukup tentang berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Berangkat dari kondisi ini, BEI DIY berupaya meningkatkan literasi dan inklusi pasar modal melalui berbagai program edukasi. Guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang berinvestasi di pasar modal Indonesia.

BACA JUGA: BEI DIY Targetkan 25.000 Investor Baru di 2024

Beberapa upaya yang dilakukan tahun ini antara lain menumbuhkembangkan program Duta Pasar Modal, menambah jumlah Galeri Investasi BEI baik di kampus maupun non kampus, serta bersama Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan DIY (FKIJK DIY), berupaya membangun Pusat Literasi Keuangan Terpadu di perguruan tinggi di DIY.

"Kami juga membangun Inkubator UMKM bersama kampus-kampus tersebut," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan BEI DIY dengan FKIJK DIY sudah bekerjasama dengan empat perguruan tinggi di DIY. Melalui langkah ini BEI DIY optimis angka literasi serta inklusi keuangan khususnya pasar modal akan semakin bertumbuh di DIY.

Dia menyebut selama 2023 BEI DIY telah menggelar 380 kegiatan literasi dan inklusi dalam bentuk Sekolah Pasar Modal, diikuti 28.410 peserta. Jika digabung dengan kegiatan edukasi oleh 61 Galeri Investasi BEI di perguruan tinggi di DIY, menghasilkan inklusi sebanyak 72.025 rekening baru pasar modal. Jumlah ini terus bertumbuh di tahun ini.

"Bicara pasar modal di DIY, kami sangat optimis jumlah tersebut tentunya sudah meningkat seiring dengan edukasi masif yang kami lakukan bersama pihak-pihak terkait," lanjutnya. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online