Kinerja APBN DIY Maret 2026: Belanja Negara Tembus Rp4,71 Triliun
Kanwil DJPb DIY rilis laporan APBN Maret 2026. Belanja negara capai Rp4,71 triliun, dukung Makan Bergizi Gratis & SMA Unggul Garuda di DIY.
Ilustrasi pasar modal. /Bisnis Indonesia-Dedi Gunawan
Harianjogja.com, JOGJA—Bursa Efek Indonesia (BEI) Yogyakarta menyampaikan sampai saat ini belum ada perusahaan di DIY yang mendaftar Initial Public Offering (IPO). Kepala BEI Yogyakarta Irfan Noor Riza berharap sampai dengan akhir 2024 setidaknya ada satu perusahaan dari DIY bisa go public.
Dia menjelaskan perusahaan butuh waktu panjang untuk persiapan IPO. BEI Yogyakarta melihat ada beberapa kendala perusahaan-perusahaan di DIY untuk melantai di BEI. Misalnya soal transparansi laporan keuangan. Banyak perusahaan yang khawatir pada audit laporan keuangan mereka.
"Laporan keuangan yang telah diaudit beberapa tahun terakhir merupakan salah satu syarat bagi perusahaan yang ingin IPO," kata Irfan, Minggu (21/7/2024).
Menurutnya audit laporan keuangan tidak bisa dilakukan oleh sembarang akuntan. Hanya akuntan publik yang ditunjuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Lebih lanjut dia mengatakan kendala lainnya adalah berkaitan dengan jumlah pemegang saham. Misalkan saham perusahaannya dipegang oleh lebih dari tiga orang dalam satu keluarga, hal ini akan mempersulit karena perlu persetujuan dari semua anggota keluarga pemegang saham. Apabila ada satu pemegang saham tidak setuju, maka proses untuk menuju IPO tidak bisa dilanjutkan.
Irfan menjelaskan kisah sukses dari perusahaan-perusahaan di DIY yang lebih dahulu IPO bisa menjadi magnet bagi perusahaan lain untuk mengikuti jejaknya. Dari total 937 emiten di BEI, 8 emiten berasal dari DIY.
BACA JUGA: Kadin Sebut Akan Ada Perusahaan dari DIY IPO Tahun Ini
"Kami optimis akan terus bertumbuh karena banyak sekali manfaatnya jika perusahaan go public melalui IPO di BEI," jelasnya.
Ia menyebut tujuan dari IPO bukan semata-mata untuk mendapatkan dana dari investor. Manfaat lain yang tidak kalah penting misalnya peningkatan kinerja, citra perusahaan, profesionalisme dan loyalitas karyawan. Sehingga tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) bisa terimplementasi. Serta menghindari kemungkinan perpecahan pemilik.
Perusahaan yang IPO, kata Irfan, juga berpeluang mendapatkan insentif pajak dan mitra usaha strategis. Nilai perusahaan pun tentunya akan terdongkrak naik.
"Beberapa testimoni dari perusahaan yang telah go public juga menganggap bahwa IPO sebagai salah satu upaya mempertahankan dan mengembangkan perusahaan keluarga," ungkapnya.
Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DIY menyebut tahun ini akan ada perusahaan yang IPO dari DIY. Wakil Ketua Bidang Keuangan, Perbankan, Keuangan Syariah, dan Pasar Modal Kadin DIY, Wawan Harmawan mengatakan proses IPO tidak mudah, butuh waktu satu hingga dua tahun.
Di Kadin DIY menurutnya ada komite yang membidangi pasar modal. Dari BEI juga melakukan sosialisasi. Dia mengatakan beberapa hotel di DIY sudah IPO seperti Eastparc. Saat ini beberapa perusahaan lokal juga sedang proses IPO.
"Kayanya ada juga [IPO tahun ini] 1-2 perusahaan. Belum bisa ekspose sektornya," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kanwil DJPb DIY rilis laporan APBN Maret 2026. Belanja negara capai Rp4,71 triliun, dukung Makan Bergizi Gratis & SMA Unggul Garuda di DIY.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.
Pemkab Bantul memantau harga pangan usai rupiah melemah. Sejumlah komoditas lokal masih aman, warga diminta tidak panic buying.
Banjir Semarang 2026 melanda Tugu dan Ngaliyan. 313 KK terdampak, satu lansia hilang, tanggul Sungai Plumbon jebol.