IHSG Hari Ini Tertekan Sentimen Perang AS-Iran dan Capital Outflow

Newswire
Newswire Kamis, 09 Juli 2026 10:37 WIB
IHSG Hari Ini Tertekan Sentimen Perang AS-Iran dan Capital Outflow

Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wsj.

Harianjogja.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Kamis (9/7/2026), seiring tekanan dari sentimen global dan domestik yang semakin kompleks.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG turun 7,60 poin atau 0,13 persen ke level 5.865,77. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga melemah 1,77 poin atau 0,30 persen ke posisi 581,11.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebut IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area support di kisaran 5.800 hingga 5.745.

“Tekanan masih cukup kuat, sehingga IHSG berpeluang melanjutkan pelemahan dalam jangka pendek,” ujarnya.

Dari faktor global, meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama. Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir, disertai serangan militer lanjutan serta ancaman blokade di Selat Hormuz.

Situasi ini mendorong lonjakan harga minyak dunia akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global, yang pada akhirnya menekan sentimen pasar saham.

Selain itu, risalah rapat bank sentral AS (The Fed) menunjukkan adanya perbedaan pandangan terkait arah inflasi. Sebagian pejabat menilai inflasi akan kembali ke target, sementara lainnya melihat tekanan inflasi tetap tinggi dipicu faktor seperti perkembangan kecerdasan buatan (AI), konflik geopolitik, hingga kebijakan tarif.

Di sisi lain, harga emas justru melemah seiring naiknya harga minyak dan meningkatnya ekspektasi inflasi.

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari hasil evaluasi S&P Dow Jones Indices yang menempatkan Indonesia dalam status pemantauan. Status ini membuka kemungkinan penurunan klasifikasi pasar dari emerging market menjadi frontier market.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor dan berpotensi mendorong capital outflow dari pasar modal Indonesia.

Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri berencana melakukan komunikasi lebih lanjut dengan S&P untuk merespons keputusan tersebut.

Selain itu, survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan penurunan kepercayaan masyarakat. Indeks Keyakinan Konsumen tercatat turun ke level 117,8 pada Juni 2026, dari sebelumnya 120,9 pada Mei 2026—menjadi level terendah sejak September 2025.

Meski demikian, indeks tersebut masih berada di atas level 100, yang berarti optimisme konsumen tetap terjaga.

Pelaku pasar juga mencermati target pemerintah dalam menghimpun dana investor asing melalui Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII) sebesar Rp300 triliun hingga Rp500 triliun.

Namun, peringatan dari sejumlah lembaga internasional terhadap investasi di Indonesia dinilai telah menggerus kepercayaan investor asing.

Secara global, mayoritas bursa saham utama juga berada di zona merah. Bursa Eropa kompak melemah, dengan indeks DAX Jerman turun 2,23 persen dan CAC 40 Prancis terkoreksi 2,18 persen.

Di Wall Street, indeks Dow Jones melemah 1,09 persen dan S&P 500 turun 0,28 persen, sementara Nasdaq masih mencatatkan kenaikan tipis 0,27 persen.

Sementara itu, bursa Asia bergerak variatif pada perdagangan pagi, mencerminkan ketidakpastian pasar global yang masih tinggi.

Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik, pergerakan IHSG dalam waktu dekat diperkirakan tetap fluktuatif. Investor disarankan mencermati perkembangan geopolitik serta arus dana asing sebelum mengambil keputusan investasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online