Pertamina Andalkan B50, Impor Solar Diproyeksi Turun 18 Juta KL

Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika Jum'at, 09 Oktober 2026 17:17 WIB
Pertamina Andalkan B50, Impor Solar Diproyeksi Turun 18 Juta KL

Foto ilustrasi biodiesel dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA—PT Pertamina (Persero) mengandalkan implementasi biodiesel B50 untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Program ini diproyeksikan menekan kebutuhan impor solar hingga sekitar 18 juta kiloliter dan menghemat devisa mencapai Rp170 triliun pada 2026.

Senior Vice President Business Development Pertamina Ary Kurniawan mengatakan diversifikasi sumber energi menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki Indonesia. Selain minyak dan gas bumi, sumber daya perkebunan seperti kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.

“Untuk menjaga ketahanan energi, kita perlu melakukan diversifikasi. Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya minyak dan gas, tetapi juga memiliki sumber daya perkebunan seperti sawit yang dapat diolah menjadi energi,” kata Ary dikutip dari keterangan resmi, Jumat (9/10/2026).

B50 Berpotensi Tekan Impor dan Emisi

Pengembangan biodiesel di Indonesia terus meningkat hingga mencapai implementasi B50. Pemanfaatan bahan baku dari dalam negeri melalui program tersebut diharapkan dapat memperkuat pasokan energi sekaligus mengurangi kebutuhan bahan bakar dari luar negeri.

Selain menekan impor solar, program B50 diproyeksikan mampu mengurangi emisi hingga sekitar 44 juta ton CO2e. Implementasinya juga diperkirakan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.

Dari sisi ekonomi, program tersebut diproyeksikan meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar Rp20,9 triliun. Dengan demikian, pemanfaatan biodiesel tidak hanya diarahkan untuk memperkuat pasokan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sumber daya domestik.

Pertamina Kembangkan Biogasoline hingga Bioavtur

Diversifikasi energi yang dilakukan Pertamina tidak terbatas pada biodiesel. Perseroan juga tengah mengembangkan biogasoline berbasis sawit yang akan diuji di dua kilang, serta bioetanol dengan bahan baku molase.

Pengembangan berbagai bahan bakar alternatif tersebut diarahkan untuk memperluas pemanfaatan sumber daya dalam negeri sebagai bahan baku energi. Ary menilai keragaman potensi domestik dapat menjadi penopang kebutuhan energi nasional.

Selain itu, Pertamina mengembangkan pemanfaatan minyak jelantah atau used cooking oil sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur. Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengembangkan energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan sektor transportasi sekaligus menekan emisi.

Penggunaan bahan baku domestik diharapkan membuka lebih banyak peluang pemanfaatan sumber daya yang tersedia di Indonesia. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar negeri.

Pertamina Dorong Dukungan Kebijakan Energi Alternatif

Ary mengatakan pengembangan energi berbasis sumber daya domestik membutuhkan dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah. Mandat pemanfaatan bahan bakar nabati menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong perluasan penggunaan energi alternatif.

Menurutnya, Indonesia memiliki beragam sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi energi. Tantangan berikutnya adalah mengoptimalkan potensi tersebut agar dapat memberikan kontribusi terhadap ketahanan energi nasional.

“Dengan sumber daya yang kita punya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dikembangkan menjadi energi. Tantangannya adalah bagaimana kita mengoptimalkan sumber daya tersebut sehingga dapat mendukung ketahanan energi nasional,” ujar Ary.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online