Bahlil: Ekspor Listrik ke Singapura Bisa Berlanjut jika Harga Cocok

Newswire
Newswire Senin, 02 November 2026 21:27 WIB
Bahlil: Ekspor Listrik ke Singapura Bisa Berlanjut jika Harga Cocok

Meteran listrik - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Indonesia masih membuka peluang ekspor listrik ke negara lain, termasuk Singapura, selama negara calon pembeli bersedia menyepakati harga yang ditawarkan. Namun, jika kesepakatan harga tidak tercapai, pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan listrik di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan ekspor listrik dapat dilanjutkan apabila harga yang ditetapkan pemerintah diterima oleh negara pembeli.

"Selama harganya cocok, ikuti harga kita, memungkinkan dong. Tapi kalau harganya tidak cocok, kami akan memprioritaskan untuk kebutuhan di dalam negeri," kata Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin.

Bahlil menjelaskan pemerintah telah menghitung harga ekspor listrik melalui Kementerian ESDM. Karena itu, dia meminta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tidak terpengaruh lobi pihak-pihak yang meminta harga jual listrik diturunkan.

"Saya minta untuk Danantara enggak boleh dilobi, untuk mau mengikuti agar harga bisa turun," ujar Bahlil.

Menurut dia, kerja sama perdagangan listrik harus memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Pemerintah tidak akan memaksakan ekspor apabila harga yang ditawarkan belum disepakati.

"Menyangkut dengan ekspor listrik kita, saya katakan bahwa yang pertama kita perhatikan harus saling menguntungkan. Kalau harganya belum cocok, kita enggak bisa," kata Bahlil.

Dia kembali menegaskan pemenuhan kebutuhan listrik domestik menjadi prioritas sebelum Indonesia menjual listrik ke negara lain.

"Kita harus memenuhi dulu apa yang menjadi kebutuhan kita di domestik," pungkasnya.

Indonesia Masih Membutuhkan Pasokan Listrik

Pernyataan tersebut sejalan dengan sikap Bahlil sebelumnya yang menyebut Indonesia belum dapat mengekspor listrik dalam waktu dekat karena masih membutuhkan pasokan untuk kebutuhan sendiri.

"Indonesia dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik, ya. Kita masih butuh listrik," ucap Bahlil dalam pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 di Jakarta, Senin.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga mengingatkan BPI Danantara agar tidak menerima lobi dari negara calon penerima ekspor listrik Indonesia.

Sebelumnya, pada Juli 2026, Bahlil menyampaikan negosiasi harga listrik hijau yang direncanakan untuk diekspor ke Singapura masih berlangsung. Pemerintah menginginkan harga yang memberikan manfaat ekonomi seimbang bagi kedua negara.

Rencana perdagangan listrik lintas batas tersebut menjadi bagian dari penguatan hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura, terutama dalam pengembangan energi hijau serta transisi energi. Namun, kesepakatan harga tetap menjadi salah satu faktor penentu pelaksanaan kerja sama.

Harga yang seimbang diharapkan membuat perdagangan listrik tidak hanya menguntungkan secara komersial, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia dan mendukung keberlanjutan kerja sama energi kedua negara.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menunjuk BPI Danantara untuk melaksanakan implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas dengan Singapura.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online