Hore, Tiket Masuk Candi Prambanan Didiskon!

Hore, Tiket Masuk Candi Prambanan Didiskon!MEMBERSIHKAN CANDI PRAMBANANPetugas membersihkan abu vulkanik Gunung Kelud di pelataran Candi Prambanan, Sleman, Jateng, Senin (17/2). Abu vulkanik erupsi Gunung Kelud yang menutupi candi itu menyebabkan Candi Perambanan harus ditutup sementara selama 1- 2 bulan ke depan untuk proses pembersihan. ANTARA FOTO - Regina Safri
20 Februari 2014 14:09 WIB Rima Sekarani Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Mempertimbangkan kemajuan pembersihan dan pembenahan kawasan taman, manajemen PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menyatakan taman wisata sudah siap menerima kunjungan wisatawan.

Hanya saja, aksesnya masih terbatas sampai dengan zona II. Batasan akses ini akan diperluas secara bertahap menuju Zona I sesuai hasil koordinasi dengan Balai Konservasi Borobudur (BKB) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Selama masa tanggap bencana, diberlakukan diskon sebesar 30% pada tarif tiket masuk bagi wisatawan. Tiket baru akan kembali pada tarif normal ketika seluruh proses pembersihan telah selesai.

“Di samping memberikan harga khusus, kami juga memberikan masker bagi pengunjung yang membutuhkan,” ungkap Direktur Operasi PT TWC Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Retno Hardiasiwi, Rabu (19/2/2014).

Terkait kerugian materi yang dialami akibat adanya hujan abu vulkanik, pihak manajemen mengaku belum melakukan perhitungan khusus.

Retno Hardiasiwi mengungkapkan saat ini fokusnya berada pada recovery candi sebagai salah satu kekayaan dunia dan andalan perekonomian masyarakat sekitar yang selama ini menggantungkan hidupnya pada area wisata.

Dipaparkan masalah kerugian materi bukanlah prioritas manajemen pengelola candi. “Kerugiannya nanti saja kita bicarakan. Mari kita fokus menyelamatkan world heritage atau kekayaan dunia,” tegas Retno Hardiasiwi.

“Agar ekonomi kerakyatan bisa tumbuh dan wisatawan yang sudah jauh-jauh datang bisa segera menikmati,” imbuhnya.

Kegiatan pembersihan candi diutamakan pada jalur yang dilalui pengunjung, seperti jalur masuk dan keluar, area parkir, dan fasilitas layanan publik seperti toilet umum. Selama proses tersebut, pengunjung diharapkan bisa mematuhi peraturan yang diberlakukan.

“Pengunjung hendaknya juga diedukasi mengenai rasa memiliki bersama. Kalau kita berikan batas berkunjung, tidak dilewati. Itu sangat menolong dan membantu,” jelas Retno Hardiasiwi.