PERTUMBUHAN EKONOMI : Januari 2015, Jogja Diperkirakan Deflasi

PERTUMBUHAN EKONOMI : Januari 2015, Jogja Diperkirakan DeflasiIlustrasi inflasi (JIBI/Harian Jogja - Reuters)
14 Januari 2015 18:40 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Pertumbuhan ekonomi Jogja pada Januari 2015 diperkirakan terjadi deflasi.

Harianjogja.com, JOGJA- Inflasi pada Januari 2015 diperkirakan lebih rendah dibanding inflasi pada Desember 2014 lalu. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY bahkan memperkirakan ada kecenderungan terjadi deflasi di Jogja.

Alasannya, selain pemerintah telah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM), rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) tidak dilakukan
awal tahun ini. Meskipun pemerintah menaikkan harga gas elpiji 12 kg dan harga sejumlah komoditas masih tinggi, tetapi TPID DIY akan terus
melakukan upaya untuk menekan inflasi.

"Itu perkiraan awal. Sebab, masih terlalu dini untuk menentukan berapa inflasi Januari ini. Namun, kami perkirakan akan turun dibanding inflasi Desember 2014 lalu," ujar Ketua III TPID DIY Arief Budi Santoso kepada wartawan, Selasa (13/1/2015).

Kecenderungan turunnya inflasi (bahkan deflasi) di DIY juga dikarenakan respon masyarakat terhadap kenaikan harga BBM di DIY lebih rendah
dibandingkan daerah lain. Hal itu terkait dengan budaya membeli masyarakat Jogja yang dinilainya lebih realistis.

"Di Jogja, harga kenaikan BBM tidak terlalu berpengaruh terhadap inflasi. Pengaruhnya hanya 0,7-08 persen per kenaikan Rp1.000. harga BBM," jelas Arief.

Selain itu, kenaikan tarif angkutan yang rata-rata naik 10% di DIY lebih rendah dibandingkan daerah lain yang rata-rata naik 30%. Terbukti,
inflasi yang terjadi pada Desember 2014 di Jogja, termasuk lima besar terendah dari 82 kota yang disurvei.

"Untuk menekan inflasi pada bulan ini, kami mewaspadai kenaikan harga LPG 12kg dengan rata-rata kenaikannya Rp1.500 per kg. Kami masih belum menghitung dampak inflasi dari kenaikan harga LPG itu,” tandasnya.

Selain LPG, TPID DIY juga mewaspadai tingginya harga beras di pasaran karena memasuki musim tanam. Termasuk, mewaspadai harga
kebutuhan pokok lainnya yang masih tinggi.

“Seperti, harga daging dan telur ayam yang tinggi akibat kenaikan harga pakan yang masih import. Semua akan kami jaga stoknya agar masyarakat tidak berlomba-lomba menaikkan permintaan,” ujar Arief.