HARGA BBM : Kenaikan Ditunda, Operator SPBU Sempat Kebingungan

HARGA BBM : Kenaikan Ditunda, Operator SPBU Sempat KebingunganEspos/Agoes RudiantoPEMAKAIAN BBM-- Karyawan SPBU Jl Bhayangkara, Solo melayani konsumen, Senin (13 - 9). Peningkatan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax di sejumlah SPBU di Kota Solo dinilai lebih tinggi dibandingkan premium selama libur Lebaran. Jika peningkatan konsumsi premium hanya berkisar 20% hingga 30%, peningkatan pertamax bisa mencapai 50% bahkan 100%. SOLOPOS 14 SEPT 2010 HAL 5 EKBIS
17 Mei 2015 14:20 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Harga BBM non-subsidi yang naik mengalami penundaan.

Harianjogja.com, JOGJA—Penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax Cs ?yang awalnya akan dilakukan mulai Jumat (15/5/2015), membingungkan operator SPBU. Pasalnya, penundaan tersebut terjadi tiba-tiba, satu jam sebelum diberlakukan.

Ketua Himpunan Swasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DIY, Siswanto mengatakan, penundaan kebijakan kenaikan harga tersebut cukup membingungkan bagi operator atau pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di lapangan. Alasannya, informasi pembatalan baru didapatkannya sekitar pukul 22.30 WIB padahal para operator bersiap untuk mengganti skema harga di mesin pompa.

“Perubahannya sangat mendadak. Saya harus segera memberitahu teman-teman operator yang bersiap mengganti skema harga. Benar-benar membingungkan,” kata Siswanto saat dihubungi, Jumat (15/5/2015).

Untungnya, lanjut dia, tidak ada antrean masyarakat di SPBU seperti umumnya kenaikan harga BBM. Saat itu, Siswanto mengaku tidak mengetahui alasan penundaan kenaikan harga tersebut. Apakah permintaan pemerintah atau Pertamina.

"Yang jelas secara prinsip, kami dan semua operator siap melaksanakan kebijakan yang dilakukan. Kalaupun terdapat perubahan harga secara mendadak yang dikeluarkan Pertamina, kami siap," tukasnya.

Meski begitu, Siswanto berharap kebijakan penyesuaian harga BBM baik harga naik maupun turun, diperhitungkan secara cermat. Hal itu penting agar tidak membingungkan pengelola SPBU maupun masyarakat.

"Tentunya, pembuat kebijakan itu kan dari pusat dan selalu disertai perhitungan tertentu. Hendaknya itu diperhitungkan secara matang,” harapnya.

External Relation PT Pertamina Region Jawa Tengah-DIY, Robert MV Dumatubun mengatakan, penundaan rencana kenaikan harga bahan bakar khusus (BBK) tersebut dilakukan agar masyarakat tidak resah. Pasalnya, terjadi kesimpangsiuran informasi terkait harga solar yang mencapai kisaran Rp9000.

Menurut dia, harga yang dimaksud berlaku untuk solar keekonomian khusus (non subsidi). Sementara, solar yang tersedia di SPBU dan dikonsumsi kendaraan masyarakat umum merupakan jenis solar bersubsidi yang dibanderol harga Rp6.900.

“Untuk memberi kenyamanan dan informasi yang jelas, Pertamina mengambil langkah cepat untuk melakukan penundaan. Efek domino dari misinterpretasi yang bisa meresahkan masyarakat, diambil dan disolusikan Pertamina dengan menundanya," kata Robert.

Sebagaimana diketahui, Pertamina berencana menaikkan harga Pertamax cs pada Jumat (15/5) lalu. Tiba-tiba secara mengejutkan, dua jam s?ebelum diberlakukan, Pertamina menunda rencana kenaikan harga tersebut. Pertamina merilis pengumuman tidak ada kenaikan harga seluruh jenis BBM yang dipasarkan perusahaan.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro dalam keterangannya menyebutkan bahwa hal itu sebagai klarifikasi perusahaan terkait dengan kesimpangsiuran yang beredar di masyarakat terkait dengan harga BBM.?