EKONOMI KREATIF : Tren Busana Muslim Dorong Pertumbuhan Ekonomi

EKONOMI KREATIF : Tren Busana Muslim Dorong Pertumbuhan EkonomiSejumlah model memperagakan tren busana muslim bertema Pop Street di acara Fashion Sunday, Meet and Greet with Zaura Models and Lulu Elhasbu, Minggu (17/5/2015). (JIBI/Harian Jogja - Abdul Hamied Razak).
20 Mei 2015 02:20 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Ekonomi kreatif Indonesia ikut ditopang tren busana muslim.

Harianjogja.com, JOGJA- Busana muslim menjadi salah satu keunggulan ekonomi kreatif masa depan. Potensi pasarnya dinilai besar. Selain beragam, koleksi busana muslim juga mengusung warna-wana cerah dan eye catching.

Desainer Muslim Lulu Elhasbu mengatakan, fashion muslim di Indonesia berkembang karena dukungan banyak pihak. Selain fashion designer dan pemerintah, media, fashion blogger hingga selebritis berhijab ikut mendongkrak popularitas busana tersebut.

“Kalau dukungan ini terus mengalir, maka busana muslim bisa menjadi salah satu keunggulan ekonomi kreatif masa depan di Indonesia,” ujarnya di sela Fashion Sunday, Meet and Greet with Zaura Models and Lulu Elhasbu, Minggu (17/5/2015).

Dia meyakini, Indonesia akan menjadi kiblat fashion dunia. Alasannya, dukungan industri terhadap fashion muslim semakin pesat. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber daya manusia (SDM) dan pasar yang potensial.

“Makanya, kreatifitas dan potensi fashion muslim ini perlu terus digali, termasuk di Jogja,” ajak Lulu.

Sementara, Manager Karita Muslim Square Jogja Leliana Istikomah mengatakan, pihaknya menyediakan koleksi busana muslim bertema Pop Street dengan ornamen berbentuk kotak, garis dan abstrak. Warna dasarnya cenderung kuat dan cerah. Tampilan busana Pop Street tersebut, sambungnya, tetap simple, lebih modis, tidak terkesan ribet atau berlebihan.

“Desainnya mengarah pada format kasual baik untuk bersantai maupun hangout. Tren fashion seperti ini cenderung disukai pasar dan perempuan muda di Jogja. Baik pada baju gamis, blouse, skirt hingga model-model maxi dress dan long cardigans,” kata Liana.

Pihaknya menyediakan beragam produk Pop Street dengan banderol harga Rp200.000 hingga Rp300.000 per item. Uniknya, Karita hanya menyediakan stok 100 pieces untuk tema Pop Street ini. “Jadi, benar-benar limited edition dan exclusive,” sambungnya.

Creative and Merchandising Director Margaria Group, Alfita Ratna Hapsari mengatakan, pihaknya optimistis koleksi busana terbaru itu bisa diterima pasar anak muda Jogja dengan baik. Ini sejalan dengan komitmen Karita untuk menjadi trendsetter urusan busana muslim bagi anak muda. Pihaknya terus menggandeng desainer Islamic Fashion untuk memperkaya referensi busana muslim muda.