Advertisement

Perputaran Uang di DIY Tembus Rp9 Triliun Selama Libur Nataru

Anisatul Umah
Sabtu, 03 Januari 2026 - 01:27 WIB
Jumali
Perputaran Uang di DIY Tembus Rp9 Triliun Selama Libur Nataru Kondisi arus lalu lintas di Jalan Malioboro, Minggu (26/1/2025). - Harian Jogja/Alfi Annissa Karin

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Ekonom memprediksi perputaran uang selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 di DIY bisa menembus Rp9 triliun. Proyeksi ini seiring lonjakan kunjungan wisatawan yang diperkirakan mencapai 9 juta orang.

Ketua Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Fakultas Bisnis UKDW, Purnawan Hardiyanto, memproyeksikan perputaran uang yang masuk ke DIY mencapai angka triliunan rupiah.

Advertisement

Purnawan menjelaskan, jika menggunakan asumsi paling rendah (konservatif), dampak ekonominya sudah sangat luar biasa bagi hotel, restoran, hingga UMKM. Berikut adalah rincian kalkulasinya:

- Jumlah Wisatawan: 9 juta orang.

- Durasi Wisata: Rata-rata 4 hari.

- Pengeluaran per Hari: Rp250.000 per orang (makan, penginapan, transport lokal).

- Total Pengeluaran per Orang: Rp1.000.000.

- Estimasi Total Uang Masuk: Rp9 Triliun.

"Angka ini baru perhitungan konservatif. Sangat mungkin pengeluaran riil wisatawan di DIY selama liburan Nataru lebih dari Rp9 triliun," ujar Purnawan, Jumat (2/1/2026).

DIY dinilai memiliki paket lengkap yang sulit ditandingi daerah lain. Beberapa keunggulan yang membuat wisatawan terus berdatangan antara lain:

- Variasi Destinasi: Mulai dari gunung (lava tour), pedesaan, pantai, candi, keraton, hingga museum dan wisata buatan baru.

- Harga Terjangkau: Pilihan hotel dan kuliner bervariasi dengan harga yang ramah di kantong.

- Aksesibilitas: Mudah dijangkau dengan pesawat, kereta api, bus, maupun kendaraan pribadi.

- Fasilitas Kesehatan: Ketersediaan rumah sakit berkualitas untuk keadaan darurat.

- Multiplier Effect: Dari Pesawat hingga Tukang Becak

Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, menambahkan bahwa jika angka kunjungan benar-benar menyentuh 9 juta orang (dua kali lipat dari proyeksi awal 4,5 juta), maka terjadi multiplier effect yang luar biasa.

"Wisatawan pasti belanja. Mulai dari konsumsi, transportasi, komunikasi, hingga oleh-oleh. Semua moda transportasi merasakan dampaknya, mulai dari pesawat hingga ojol dan becak," jelas Susilo.

Ia merujuk pada data 2024, di mana rata-rata konsumsi per wisatawan di DIY mencapai Rp2,2 juta. Jika angka ini dikalikan 9 juta wisatawan, maka jumlah uang yang berputar secara nominal jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Tantangan Menuju "Quality Tourism"
Meski secara kuantitas sukses besar, Susilo menekankan pentingnya beralih ke quality tourism secara bertahap. Fokusnya bukan lagi sekadar jumlah kepala yang datang, melainkan seberapa besar belanja (spending) yang dikeluarkan wisatawan.

"Pariwisata di momen hari besar memang bersifat mass tourism. Namun ke depan, Pemda dan pelaku ekonomi harus bersinergi meningkatkan kualitas destinasi agar wisatawan tidak hanya datang sekali, tapi terus kembali (repeat order)," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Lubang Maut di Jalan Jogja-Wates, Ban Bocor hingga Velg Pecah

Lubang Maut di Jalan Jogja-Wates, Ban Bocor hingga Velg Pecah

Kulonprogo
| Jum'at, 02 Januari 2026, 22:47 WIB

Advertisement

Thailand Legalkan Pernikahan Sesama Jenis, Dorong Ekonomi Pelangi

Thailand Legalkan Pernikahan Sesama Jenis, Dorong Ekonomi Pelangi

Wisata
| Jum'at, 02 Januari 2026, 18:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement