Industri Kelapa Sawit Dituntut Tingkatkan Nilai Tambah Produk

Industri Kelapa Sawit Dituntut Tingkatkan Nilai Tambah Produk
20 Mei 2015 13:20 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Industri Kelapa Sawit dituntut melakukan inovasi.

Harianjogja.com, SLEMAN- Peningkatan produktivitas kelapa sawit di Indonesia selama ini lebih ditunjang ekspansi lahan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan. Ke depan, industri kelapa sawit dituntut untuk terus melakukan inovasi.

Sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia perlu melakukan hilirisasi atau peningkatan nilai tambah produk-produk kelapa sawit melalui teknologi dan penelitian. Selain itu, peningkatan pasar dalam negeri juga perlu dilakukan agar Indonesia tidak tergantung dengan produk-produk luar.

“Indonesia mampu menghasilkan sebesar 11 juta ton per tahun. Kondisi ini sangat potensial dan bisa ditingkatkan lagi. Salah satunya dengan terus melakukan peningkatan inovasi dan teknologi,” ujar Presiden Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Didiek Hadjar Goenadi di sela pertemuan teknis kelapa sawit denga 12 produsen CPO di Hotel Alana Jogja, Selasa (19/5/2015).

Teknologi yang dimaksud Didiek adalah teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi. Mulai peningkatan produktifitas melalui bibit tanaman unggul, pengelolaan tanaman di lapangan, panen dan pengolahan hingga pengembangan produk-produk hilir. Hal itu, katanya, berdampak pada efisiensi baik untuk meningkatkan produktivitas maupun menekan cost produksi.

“Teknologi yang inovatif mampu meningkatkan produksi kelapa sawit rata-rata 15 hingga 20 persen. Teknologi yang dikaitkan dengan pemupukan, survei tanaman drone untuk menekan biaya namun hasil bisa maksimal,” tandasnya.

Saat ini, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia sekitar 11 juta hektar. Jumlah tersebut mampu menghasilan Crude Palm Oil (CPO) sebesar 29 juta ton per tahun. Indonesia bahkan menjadi produsen terbesar kelapa sawit  yang diekspor ke India, Tiongkok hingga Eropa. Meski begitu, Didiek berharap, pasar domestik juga mampu menyerap produk lebih banyak.

“Misalnya bio diesel. Jika penyerapan B15 dijalankan, itu menyedot 5 juta ton CPO. Itu untuk biodiesel dalam negeri saja. Atau penyerapan minyak goreng bisa 5 hingga 6 juta ton per tahun,” ujarnya.

Sementara, Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Hasril Hasan Siregar menjelaskan, pihaknya fokus mengembangkan hilirisasi atau memberi nilai tambah pada produk-produk turunan kelapa sawit.  Para produsen kelapa sawit di Indonesia, lanjut Hasril, belum melakukan hilirisasi.

“Kita harus masuk ke hilir untuk menjual produk-produk yang punya nilai tambah. Yang paling potensial biodiesel tadi dengan energi yang terbarukan," tandas Hasril.